150 Desa di Garut Masih Kesulitan Akses Internet

150 Desa di Garut Masih Kesulitan Akses Internet
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Sedikitnya 150 desa dari 420 desa yang ada di Kabupaten Garut masih mengalami kesulitan dalam mengakses sinyal internet. 

Akibatnya, proses kegiatan belajar mengajar di kalangan lembaga pendidikan di desa-desa tersebut secara daring seperti diberlakukan pada masa pandemi Covid-19 sekarang ini tak bisa dilaksanakan secara baik.  

Hal itu dikemukakan Wabup Garut Helmi Budiman pada Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan Bidang Pendidikan di kawasan wisata Cipanas Tarogong Kaler, Rabu (4/11/2020).

Menurut Helmi, dalam melaksanakan kegiatan belajar secara daring yang kini menjadi sebuah kebudayaan baru dengan adanya adaptasi kebiasaan baru (gegara pandemi Covid-19) itu juga terkendala sejumlah hal. Semisal kurangnya sarana prasarana dimiliki peserta didik. Tidak semua orang memunyai telepon genggam (HP), ada yang memunyainya namun tak ada pulsa, ada yang punya telepon genggan dan punya pulsa namun tak ada sinyal. 

"HP ada, pulsa ada, sinyal yang tidak ada. Saya sampaikan kepada Pak Gubernur,  bahwa sinyal di Kabupaten Garut, ada sekitar 150 desa yang masih kesulitan (mengakses sinyal)," ujar Helmi.

Ditambahkan, kondisi nasional termasuk Kabupaten Garut di tengah pandemi Covid-19 saat ini mulai mengalami perubahan budaya. Hal itu setidaknya dengan adanya adaptasi kebiasaan baru. Mulai kebiasaan memakai masker hingga cara bersalaman yang berubah dari biasanya.

"Biasanya, kita kalau ketemu itu salaman. Sekarang, salaman juga menggunakan kepalan," katanya sambil mengepalkan tangan.

Informasi diterima INILAH, mengatasi sulitnya mengakses internet di desa-desa terutama di wilayah selatan Kabupaten Garut memaksa kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan cara luring atau home visit. Para pengajar mendatangi peserta didik di rumah tinggalnya dan bersama peserta didik lainnya yang berdekatan berkumpul mengikuti kegiatan belajar. Cara tersebut biasanya dilakukan bergiliran dari satu rumah peserta didik ke rumah peserta didik lainnya.

Hal itu dilakukan agar kegiatan belajar para peserta didik tidak tertinggal dengan rekan-rekan peserta didik lainnya yang dapat mengakses internet secara memadai. Kendati untuk menempuh rumah peserta didik pun bukan hal mudah. Kerap kali terkendala jarak tempuh, akses infrastruktur jalan dan jembatan, kondisi geografis berbukit, serta ancaman potensi bencana di tengah musim hujan seperti saat ini. (Zainulmukhtar)