Purwakarta Lirik Pengembangan dan Budidaya Bawang Merah Dengan Pola Tanam Biji

Purwakarta Lirik Pengembangan dan Budidaya Bawang Merah Dengan Pola Tanam Biji

INILAH. Purwakarta – Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta melansir, sebagian wilayah ini merupakan daerah dataran tinggi atau pegunungan.

Sebut saja di antaranya, Kecamatan Wanayasa, Bojong dan Kiarapedes. Selama ini, masyarakat di wilayah bagian selatan itu, banyak di antaranya mengandalkan penghasilan dari berkebun.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan menuturkan, pihaknya melirik potensi untuk pengembangan beragam jenis sayuran dan tanaman holtikultura di wilayah bersuhu dingin itu. Saat ini saja, pihaknya sedang melakukan pengembangan bawang merah yang benihnya tak lagi menggunakan umbi, melainkan jenis benih biji atau true shallot siid.

“Selain pengembangan Buah Manggis, cengkeh dan Teh, wilayah ini juga cocok untuk perkebunan holtikultura. Misalnya, jenis cabai dan sayuran lainnya. Saat ini, kami juga sedang melakukan pengembangan bawang merah dengan pola tanam dari biji,” ujar Agus kepada INILAH, Kamis (5/11/2020).

Untuk pengembangan bawang merah ini, lanjut Agus, pihaknya membuat demplot atau lahan percontohan untuk pengembangan produk holtikultura ini. Untuk demplot itu sendiri, luasnya sekitar 10 hektare yang lokasinya di sekitar Kecamatan Bojong.

“InsyaAllah, jika tak ada aral melintang di Desember nanti kami akan melakukan panen perdana bawang merah hasil pengembangan di demplot ini,” jelas dia.

Menurut Agus, salah satu keunggulan dari menanam bawang merah dengan menggunakan biji, yakni bisa menekan biaya produksi dan meminimalisasi pemakaian umbi bibit untuk perkebunan bawangnya.

“Dengan teknik tanam biji, salah satunya bisa menghemat biaya produksi. Di sisi lain, bisa meningkatkan produktifitasnya,” terang dia.

Dia mencontohkan, jika menggunakan pola tanam umbi bibit, kebutuhan produksinya sekitar 1,5 ton per hektare. Jika di uangkan, kebutuhannya sekitar Rp 45 juta. Namun, berbeda jika menggunakan pola tanam menggunakan benih biji, kebutuhannya hanya Rp 10 juta dengan asumsi hanya 5 kilogram per hektare.

“Makanya, ini akan kami dorong. Mengingat, di wilayah kita juga cukup potensial untuk pengembangannya. Minimalnya, bisa menutupi kebutuhan lokal,” tambah dia.

Agus menambahkan, sebenarnya wilayahnya merupakan salah satu wilayah yang potensial untuk pengembangan sayuran dan jenis tanaman holtikultura lainnya. Apalagi, selain ketersediaan lahan yang memadai, hal itu juga didukung dengan adanya produsen benih sayur unggulan yang bisa bermitra dengan masyarakat. (Asep Mulyana)