Pemkot Bogor Matangkan Larangan Penggunaan Kantong Plastik di Pasar Tradisional

Pemkot Bogor Matangkan Larangan Penggunaan Kantong Plastik di Pasar Tradisional
Wali Kota Bogor Bima Arya. (Rizki Mauludi)

INILAH, Bogor - Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mematangkan kebijakan pelarangan penggunaan kantong plastik di tradisional. Hal tersebut seperti diungkapkan Wali Kota Bogor Bima Arya dalam keterangan tertulis pada Kamis (5/11/2020).  

"Setelah Perwali 61/2018 untuk melarang penggunaan kantong plastik di retail modern, kami menargetkan tahun ini sebetulnya sudah mulai kita implementasikan di pasar tradisional. Kami terus matangkan dengan melakukan kajian dan sosialisasi," ungkap Bima.

Bima juga memberikan, catatan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor dan GIDKP yang nantinya akan melakukan pendampingan. Ada dua catatan, pertama adalah bagaimana DLH memastikan bahwa ada solusi untuk substitusi kantong plastik. 

"Untuk yang kedua adalah persoalan menyosialisasikan itu kepada semua..Dua hal itu pengalaman kami ketika kami menerapkan Perwali 61 tahun 2018. Kami sosialisasikan gencar, kami kasih opsi-opsinya seperti apa. Awal tahun ini sebetulnya kami sudah mulai sosialisasikan itu tapi terkendala Covid-19 jadi ada keterbatasan," tambahnya.

Bima mengaku, menyambut baik peran komunitas dan aktivis lingkungan hidup yang ikut serta mendampingi perluasan implementasi kebijakan tersebut di pasar tradisional. Dirinya senang bisa berkolaborasi. 

"Kami senang bisa didampingi, melakukan riset tentang penggunaan kantong plastik di pasar dan sosialisasinya. Mungkin bisa dibantu juga dalam konteks merumuskan regulasinya seperti apa. Kalau kegiatan ini bisa tuntas akhir tahun ini kita juga senang," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif GIDKP Tiza Mafira mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan menurunkan tim survei untuk melakukan kajian-kajian yang dibutuhkan. Untuk survei baseline, pihaknya akan menurunkan surveyor ke pasar secara fisik tentunya dengan mematuhi protokol kesehatan Covid-19. 

"Survei ini dilakukan untuk mendapatkan informasi jenis kemasan plastik sekali pakai apa saja yang sering digunakan pedagang, kategori pedagangnya apa saja, termasuk pasar kering, pasar basah, kiosnya apa saja, apakah sayur, daging, buah, kain, dan lain-lain. Supaya kami mendapatkan gambaran keadaan sebelum intervensi," terangnya.

Ia juga mengatakan, akan fokus kepada salah satu pasar tertentu untuk dikembangkan terkait apa saja yang bisa menjadi alternatif selain kantong plastik dan akan diujicobakan. Seperti yang dilakukan dipasar lain, dimana dirinya menjodohkan pedagang plastik di pasar. 

"Di pasar itu selalu ada kios-kios yang khusus menjual plastik, jadi kios-kios plastik ini kami kenalkan dengan supplier tas guna ulang, bisa dari kain, bisa dari anyaman, sehingga mereka tidak menjual kresek tapi beralih menjual ke penjual tas belanja guna ulang," tuturnya.

Bima berpendapat, hal-hal seperti itu bisa diterapkan di Bogor, tujuannya untuk membentuk ekosistem bisnis yang sudah jalan.

"Ya, sehingga kebiasaan itu terus berjalan dan terus diimplementasikan di pasar," pungkasnya.