Tim Pemenangan Paslon: Marak Kampanye Hitam dan Fitnah

Tim Pemenangan Paslon: Marak Kampanye Hitam dan Fitnah
Paslon Nomor Urut 1 Kurnia Agustina-Usman Sayogi (NU Pasti Sabilulungan). (dani r nugraha)

INILAH, Bandung - Ketua Tim Pemenangan Paslon Nomor Urut 1 Kurnia Agustina-Usman Sayogi (NU Pasti Sabilulungan), Cecep Suhendar, merasa prihatin dengan masifnya  kampanye hitam (black campaign), fitnah, hingga pembusukan terhadap para kandidat paslon bupati dan wakil bupati di Pilbup Bandung.

Cecep menilai kondisi tersebut seharusnya tidak terjadi. Sebab, kontestasi Pilbup Bandung seyogianya bisa menjadi ajang pesta rakyat yang menyenangkan. Dia mengatakan, kondisi tersebut terjadi karena masyarakat maupun tim dari masing-masing kandidat yang justru memperburuk pesta rakyat tersebut.

"Harusnya black campaign, fitnah, atau pembusukan terhadap para kandidat tidak perlu terjadi. Tidak heran, jika sekarang banyak pemberitaan di media yang pada kenyataannya itu tidak benar seperti yang diberitakan," kata Cecep, Kamis (5/11/2020)

Diap mencontohkan, belum lama ini ia mendapat laporan jika ada pemberitaan yang cenderung memfitnah paslon nomor 1. Dalam pemberitaan, Kurnia Agustina berfoto bersama pimpinan dan sejumlah staf Dinas Sosial Kabupaten Bandung.

Kenyataannya, foto tersebut sebenarnya diambil pada Maret 2019 saat Kurnia Agustina menjabat sebagai Ketua TP PKK. Foto tersebut menjadi sorotan sejumlah masyarakat karena seolah-olah foto tersebut baru saja diambil saat tahapan kampanye.

"Padahal itu foto saat Teh Nia (sapaan akrab Kurnia Agustina) bersama Dinsos melakukan kunjungan dan peninjauan warga terdampak bencana di Pangalengan," ujarnya.

Adanya pemberitaan tersebut berdampak pada kemunculan opini dan persepsi publik di mana terkesan ASN Pemkab Bandung melakukan kegiatan yang masif dan mendukung paslon nomor urut 1 sehingga sangat merugikan paslon nomor urut 1.

"Kemudian ada juga yang memberitakan mengenai pihak kami membagikan sembako dan lain sebagainya. Dan itu tidak benar. Konsep-konsep seperti itu tidak kami lakukan. Malah kami curiga bisa saja pihak lawan yang memainkan isu itu," katanya.

Cecep dan Tim Pemenangan akhirnya melakukan penelusuran. Fakta yang didapat di lapangan malah dirinya mendapat laporan dan bukti tertentu dari paslon lain yang justru melakukan pelanggaran. Kata dia, salah satu paslon justru membagikan sembako dengan memanfaatkan fasilitas negara.

"Kami temukan ada pembagian sembako atau makanan tambahan dari Kementerian Kesehatan yang di dalamnya ada stiker dan maskernya. Dan ini malah sudah dibagikan ke masyarakat. Pembagian sembako ini dilakukan sekitar dua hari lalu di salah satu desa di Rancakekek," katanya.

Selain itu, ia juga mendapatkan bukti nyata adanya kegiatan internal salah satu partai yang mengundang masyarakat. Saat acara berakhir, masyarakat kemudian dibekali sembako yang di dalamnya terdapat gambar salah satu paslon.

"Nanti bukti-bukti yang kami dapat, akan kami laporkan ke Bawaslu agar diproses. Karena sudah disalurkan ke masyarakat. Sehingga ini merupakan pelanggaran pidana di Pilbup Bandung," ujarnya.

Cecep pun kembali menyinggung ketidaknetralan Pemprov Jabar dalam menyikapi Pilbup Bandung 2020. Ia memprotes langkah Pemprov Jabar yang membagikan bantuan sosial (bansos) yang dikemas dengan kemasan bergambar nomor tertentu. Numerik di dalam kemasan tersebut menjadi sensitif. Sebab, ujar dia, numerik tersebut sangat kental dengan salah satu paslon.

"Saya pikir bukan hanya di Kabupaten Bandung yang dirugikan. Tapi daerah lainnya juga pasti merasakan hal serupa. Apalagi di dalam bungkus tersebut ada label yang menempel dengan simbol bertanda kutip. Nah, tanda kutip ini identik dengan salah satu kandidat paslon di Pilbup Bandung," ujarnya.

Menurut Cecep, tim kuasa hukumnya akan segera melaporkan temuan itu ke Bawaslu Provinsi Jawa Barat. Saat ini, Tim Pemenangan Paslon Nomor Urut 1 tengah menyiapkan bukti disertai data administrasi dan data faktual.

"Berbagai pelanggaran ini sudah terbukti memenuhi syarat, terstruktur, sistematis dan masif. Makanya, harus segera ditindaklanjuti," pungkasnya. (dani r nugraha)