Prospek Cerah, Industri Game Lokal Butuh Dukungan Pemerintah

Prospek Cerah, Industri Game Lokal Butuh Dukungan Pemerintah
Foto: Rianto Nurdiansyah

INILAH, Bandung - Dunia game dewasa ini tidak melulu bicara soal permainan untuk mengisi waktu luang. Lebih dari itu, kini industrinya kian marak hingga membuat developer lokal tak mau kalah dengan developer global untuk menguasai pasar Indonesia.

Terlebih dengan populasinya yang mencapai 267 juta jiwa, Indonesia sebagai market terbesar industri game mampu menghasilkan 1,1 miliar USD selama tahun 2019.

"Indonesia menghasilkan 1,1 miliar dollar dari gaming industri. Mengalami pertumbuhan 8-9% per tahun, gaming industry memperlihatkan prospek yang sangat menjanjikan," ujar Agustiadi Lee, Program Director Innovation Factory.

Menanggapi tantangan itu, kata Agustiadi, Innovation Factory sebagai Innovation dan Technology Hub Indonesia menggelar "i360 on Gaming: Unleashing Indonesia’s Potentials" secara daring, Jumat (6/11/2020) sebagai edisi ketiga dari program i360 yang telah dilaksanakan sejak 2019.

Event itu melibatkan keseluruhan value chain dari upstream, midstream, dan downstream dari industri gaming, yang terdiri atas developer dan publisher game, tim esports, investor, dan sektor swasta dari 5 negara yang mengupas pandangan yang esensial dalam industri game.

"Dengan pertumbuhan pesat industri game saat ini, khususnya di tengah kondisi pandemi, kami percaya bahwa industri game akan menjadi salah satu pemenang dalam beberapa tahun ke depan," kata Agustiadi.

Sementara itu, Presiden Asosiasi Game Indonesia (AGI) Cipto Adiguno mengatakan, jumlah investasi yang dikucurkan untuk industri game adalah faktor penting yang mendefinisikan pertumbuhan industri itu sendiri. Bila melihat kepada Indonesia, kendati sebagai market industri game terbesar namun masih perlu mengejar ketertinggalan dari China,Vietnam, dan Thailand. 

"Dalam hal dukungan pemerintah, gaming industry di Indonesia masih memerlukan dukungan dari pemerintah untuk dapat tumbuh, terutama dalam hal penyediaan akses," katanya.

Cipto menyebut, tantangan game developer lokal yaitu menemukan akses  akses untuk menjual produk mereka ke pasar global. Namun hal tersebut sulit dilakukan. 

Karena itu, pemerintah dapat memberikan dukungan kepada mereka untuk menunjukkan produk mereka dalam skala internasional.

"Salah satu cara untuk mendukung ekosistem gaming di Indonesia perlu dimulai dari penyediaan infrastruktur gaming yang lebih memadai, budaya yang lebih baik, hardware yang lebih mumpuni, dan jaringan internet lebih cepat," paparnya.

Dengan dukungan tersebut, kata Cipto, semua elemen dalam industri game, mulai dari developer, investor, publisher, hingga esports dapat bekerja bersama dan berkolaborasi dengan lebih baik dan mempersiapkan diri untuk masuk ke pasar game global.

PR and Community Manager of Another Indie Vladyslav Tsypljak mengatakan, untuk mendorong game developer lokal masuk ke pasar global, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mulai memperluas jaringan ke publisher game internasional. 

"Publisher internasional memiliki akses pasar yang lebih luas sehingga dia adalah pihak yang paling potensial yang dapat membantu developer lokal memperluas jangkauan pasarnya," katanya.

Namun, kata Vladyslav, sebelum bertemu dengan publisher, developer perlu melakukan research terlebih dahulu, terutama terkait portfolio dan track record publisher tersebut.

"Game developer lokal dapat pula mempekerjakan PR (public relations) specialist atau social media apecialist yang dapat mendongkrak exposure untuk produk yang dibangun," imbuhnya.

Terlebih, dewasa ini hampir semua komunikasi dilakukan secara online. Menurutnya, melakukan aktivitas PR melalui media sosial akan sangat membantu developer untuk membuat produknya diketahui oleh pasar yang lebih luas, baik secara lokal maupun global. 

"Membuat e-mail marketing juga dapat membantu, namun perlu dilakukan personalisasi agar tidak dilihat sebagai spam. Developer lokal perlu untuk membuat game mereka menonjol di antara banyaknya game serupa agar mendapatkan perhatian dari pasar yang lebih luas," tegas Vladyslav.

Sementara itu, Manager of Games & New Digital Brand and Communications PT Telkomsel Diko Julian mengatakan, sebagai salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, Telkomsel telah meluncurkan Dunia Games, platform gaming terbesar di Indonesia pada 2013 silam.

Sebagai pemimpin dalam kancah games portal di Indonesia, lanjut Diko, Telkomsel juga berinvestasi secara serius di Dunia Games untuk mengakomodasi kebutuhan para gamer.

Saat ini, fokus Dunia games adalah memperluas gaming community engagement, pembuatan konten, liga esports, dan game publishing. 

"Dalam hal esports, turnamen online yang dilaksanakan Dunia Games naik hingga 780 persen," katanya.

Selain tiga pembicara terakhir di atas, acara i360 on Gaming yang didukung AKG Games dan Asosiasi Game Indonesia (AGI) sebagai organizing partner dan BLOCK71 sebagai community partner serta berbagai universitas terkemuka di Indonesia ini juga menghadirkan Head of Indonesia Garena Hans Saleh, CEO Agate Arief Widhiyasa, dan Co-Founder EVOS Hartman Harris.

Selain itu, sejumlah pembicara dari beberapa negara juga ikut terlibat, yakni Garner (CEO Another Indie), Ohm Srukhosit (Activision Blizzard Entertainment), John Kim (COO T1 Entertainment and Sports), serta para ahli dari berbagai sektor gaming Indonesia yaitu Andrian Pauline Husen (CEO & Founder of RRQ), Vemri Veradi (Senior Brand Manager Indofood), Rokimas Soeharyo (TOUCHTEN), dan Chandra Firmanto (Managing Partner IndoGen Capital).

Acara ini tentunya juga melibatkan game-game dan peripheral terpilih dalam segmen Demo Day dimana para peserta dapat melakukan showcase dan mempertunjukan game atau peripheral mereka serta berhubungan dengan calon investor, klien, dan customer. (Rianto Nurdiansyah)