Jaga Jarak, Kunci Cegah Covid-19 yang Masih Terabaikan

Jaga Jarak, Kunci Cegah Covid-19 yang Masih Terabaikan
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Hingga kini, sebagian besar masyarakat cenderung masih abai akan pentingnya menjaga jarak dalam upaya mencegah penularan Covid-19. Padahal menjaga jarak merupakan satu dari tiga kunci utama pencegahan penularan Covid-19 selain memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun.

Penyebab paling dominan sulitnya menjaga jarak dalam pergaulan sosial demi pencegahan penularan virus SARS-Cov2 itu berkaitan norma sosial berlaku di masyarakat sendiri. Merasa tak enak hati bila menjauh dari orang, atau menghindar dari orang yang mendekat. 

Masih adanya persepsi keliru mengenai bahayanya orang tanpa gejala (OTG) terkait penularan virus. Orang kelihatan sehat tanpa menunjukkan gejala batuk dan bersin dianggap kecil kemungkinan menularkan virus.

Realitas perilaku masyarakat yang masih abai terhadap menjaga jarak dalam pencegahan Covid-19 itu setidaknya tampak dari hasil survey mengenai pengetahuan, sikap, praktik masyarakat terkait cegah Covid-19 dilakukan lembaga riset AC Nielsen kerjasama Unicef di enam kota besar di Indonesia, pada periode Agustus 2020.

Menurut Konsultan Unicef Risang Rimbatmaja pada talkshow daring belum lama ini, praktik cegah Covid-19 paling banyak dilakukan masyarakat yaitu cuci tangan pakai sabun (72%), diikuti memakai masker (71%). Sedangkan praktik jaga jarak masih rendah, hanya mencapai 47%. Itu pun pratik cuci tangan pakai sabun dan pakai masker masih cenderung dinilai sebagai urusan pribadi. Sedangkan berkaitan jaga jarak, terkendala aspek normal sosial dan mispersepsi. 

Sebanyak 40% responden menyatakan merasa tak enak menjauh dari orang lain. 
Sebanyak 36% mengatakan tak menjaga jarak dengan alasan orang lainlah yang mendekat, dan 25% mengatakan tidak ada alasan harus menjaga jarak karena semua orang juga tidak jaga jarak.

"Ada mispersepsi mengapa orang abai akan jaga jarak. Masih cukup banyak yang belum menyadari konsep OTG (bahayanya). Sekitar 27% mengatakan mereka sehat kok, dan 24% lainnya mengatakan orang lain juga sehat," kata Risang.

Dari hasil survey juga terlihat sekitar sepertiga atau 32% di antaranya mempraktikkan tiga perilaku kunci sekaligus. Kebanyakan belum mempraktikkan ketiganya melainkan hanya satu atau dua perilaku cegah Covid-19. Sekitar 9% lainnya tidak mempraktikkan satu pun dari ketiga kunci cegah Covid-19 tersebut. 

Dari segi usia, kalangan muda tampak kurang disiplin dalam mempraktikkan ketiga perilaku kunci cegah Covid-19. Persentasenya hanya 20%. Kelompok dewasa (50-54 tahun) paling tinggi prosentasenya dalam melaksanakan ketiga perilaku kunci cegah Covid-19 (41,30%). 

"Dibandingkan laki-laki, ternyata perempuan lebih banyak mempraktikkan tiga perilaku kunci ini," kata Risang.

Dia menyebutkan, persepsi serta perilaku terkait Covid-19 itu juga berbeda-beda di setiap daerah/kota. Begitu juga terkait status sosial tingkat pengeluaran ekonominya.

Atas kondisi seperti itu, UNICEF Communications Development Specialist Rixky Ika Safitri mengatakan, diperlukan strategi spesifik bagi masing-masing kota, kelompok umur dan gender untuk bisa mengarahkan perubahan perilaku akan pencegahan Covid-19 dengan pendekatan pentaheliks. 

"Pengetahuan makin baik, perilaku makin baik. Kalau perilaku makin baik maka kondisi makin baik," ujarnya.

Survei menggunakan data collectio proses dengan 22 pertanyaan dan wawancara tatap muka di rumah. Pengumpulan data dilakukan Agustus 2020 dengan responden terpilih random sebanyak 2.000 sampel, berusia 15-65 tahun dari semua status sosial ekonomi. Lokasi survei meliputi Kota Medan, Jakarta plus Bodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Makassar.

Pada bagian lain terpisah, berkaitan masih banyaknya masyarakat abai akan perilaku kunci jaga jarak,  Satgas Sub Bidang Sosialisasi Perubahan Perilaku BKKBN Dwi Listyawardani menyarankan kampanye perilaku kunci 3 M, memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak harus diubah menjadi memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun. Ajakan terhadap masyarakat untuk menjaga jarak harus lebih diintensifkan. 

"Masih ada masyarakat tak percaya Covid-19. Sehingga informasi Covid-19 harus intens disampaikan ke masyarakat untuk mendukung perubahan perilaku !" ingatnya lagi. (Zainulmukhtar)