Bupati Bogor Mempertanyakan Efektifitas Layanan Bus di Kawasan Puncak 

Bupati Bogor Mempertanyakan Efektifitas Layanan Bus di Kawasan Puncak 
Foto: Reza Zurifwan

INILAH, Puncak - Bupati Bogor Ade Yasin mempertanyakan program Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dalam mengatasi atau mengurai kemacetan lalu lintas kendaraan di Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.

Seperti diketahui, Kemenhub pada 2021 mendatang akan mengucurkan bantuan senilai Rp100 miliar untuk Pemkab Bogor melalui program bus by the service.

"Kami akan melihat dulu program bus by the service yang dikeluarkan Kemenhub ataupun Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), kalau body busnya besar saya rasa tidak menjadi solusi karena tidak bakal mengurangi kemacetan lalu lintas di Kawasan Puncak karena lebar jalan hanya segitu-gitunya serta apa sanggup mereka menyediakan banyak bus untuk banyak objek wisata yang tersebar di tiga kecamatan," kata Ade kepada wartawan, Senin (9/11/2020).

Dia menilai, mode transportasi massal yang cocok untuk diaplikasikan di kawasan wisata Puncak adalah mass rapid transit (MRT), light tail transit (LRT) atau kereta gantung.

"Kalau MRT, LRT atau kereta gantung kan jalannya dibawah tanah atau diatas jalanan  hingga bisa mengurai kemacetan atau tidak menambah kemacetan lalu lintas di Kawasan Puncak, kita tunggu dulu kepastian konkret program bus by the service ini," sambungnya.

Dihubungi terpisah, anggota Komite Perencana Kabupaten Bogor sekaligus pengamat transportasi tata kota Yayat Supriyatna menerangkan bahwa pembangunan MRT, LRT dan kereta gantung adalah rencana jangka panjang sementara bus by the service adalah rencana jangka pendek.

"Untuk menata transportasi dan tata kota di Kawasan Puncak itu ada yang jangka pendek dan jangka panjang, karena keterbatasan anggaran apalagi ini masih masa pandemi Covid-19, maka rencana program bus by the service lebih realistis," terang Yayat.

Dosen di Universitas Trisakti ini menjelaskan program bus by the service plus rekayasa arus lalu lintasnya dianggap solusi yang terbaik pada saat ini, angkutan kota yang ada papar Yayat tetap beroperasi untuk feeder ke objek-objek wisata maupun ke perdesaan.

"Bus ini yang ada di jalan raya, lalu dengan disubsidi maka angkutan kota beroperasi sebagai feeder. Selain itu juga akan kendaraan roda empat yang bisa melintas tergabtung  ganjil genap nomor polisinya. Dengan program bus by the service kita harapkan ada peralihan perilaku masyarakat yang sebelumnya menggunakan kendaraan empat milik pribadi beralih ke transportasi massal seperti bus," jelasnya.

Yayat melanjutkan dengan peralihan akan ada perilaku baru, struktiur transportasi yang baru ini bakal menjadi kultur atau budaya masyarakat luas termasuk wisatawan.

"Bus by the service ini kami usulkan murah tarifnya, sehingga bus ini tidak hanya mengangkut wisatawan tetapi juga masyarakat sekitar Kawasan Puncak," lanjut Yayat. (Reza Zurifwan)