API Berharap Pemerintah Fasilitasi Restrukturisasi Mesin Industri

API Berharap Pemerintah Fasilitasi Restrukturisasi Mesin Industri

INILAH, Solo- Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) berharap pemerintah bisa memfasilitasi restrukturisasi mesin industri untuk mendongkrak produksi tekstil dan produk tekstil dalam negeri khususnya untuk kebutuhan ekspor.

"Sampai saat ini tekstil dan produk tekstil masih menjadi penyumbang devisa terbesar. Ke depan Surakarta dalam hal ini Soloraya akan memainkan peranan yang lebih besar lagi," kata pengurus API Jawa Tengah Lilik Setiawan di Solo, Senin (9/11/2020).

Meski demikian, sebagai negara produsen, dikatakannya, Indonesia perlu mewaspadai keberadaan Negara berkembang lainnya yang juga masuk ke sektor ini, salah satunya Thailand. Ia mengatakan saat ini kontribusi Thailand terhadap pasar ekspor tekstil dan produk tekstil jauh di atas Indonesia.

Padahal, Indonesia lebih dulu dibandingkan Thailand dalam menjadi Negara produsen TPT. Ia mengatakan jika dibandingkan, untuk nilai ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia masih di kisaran 12,9 miliar dolar AS.

"Sedangkan Thailand di angka 24 miliar dolar AS. Dengan capaian ini Thailand mampu mencakup sebesar 6 persen kebutuhan TPT di pasar global. Kalau Indonesia masih di kisaran 1,8 persen," katanya.

Ia mengatakan jika tidak segera melakukan pembenahan sumber daya manusia (SDM) dan fasilitas penunjang maka Indonesia akan tertinggal jauh dari pesaing. Menurut dia, untuk fasilitas penunjang ini peremajaan mesin harus menjadi salah satu prioritas.

Pihaknya berharap pemerintah dapat kembali meluncurkan program restrukturisasi mesin industri karena ini dibutuhkan oleh pengusaha. Menurut dia, pada restrukturisasi tersebut bukan berarti pengusaha tidak memperoleh mesin secara gratis, namun cukup dibebaskan biaya pajaknya.

"Industri ini harus berkembang, harus ada 'support' (dukungan). Upaya pemerintah sejauh ini sudah cukup baik, salah satunya mendirikan Pendidikan Tinggi Vokasi di bidang Teknologi Tekstil dan Garmen yang berada di bawah Kementerian Perindustrian bernama AK-Tekstil Solo," katanya.

Ia mengatakan didirikannya perguruan tinggi tersebut untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli tekstil dan garmen yang kompeten bagi dunia industri yang membutuhkan.