Mendes PDTT Dorong Pendidikan di Desa untuk Wujudkan Desa Peduli Anak

Mendes PDTT Dorong Pendidikan di Desa untuk Wujudkan Desa Peduli Anak
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar. (antara)

INILAH, Jakarta - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mendorong peningkatan pendidikan dengan penggunaan Dana Desa guna meningkatkan angka partisipasi anak di sekolah dan mewujudkan desa peduli anak.

"Karena perkembangan anak adalah ukuran kemajuan masyarakat yang paling presisi," kata Mendes Halim yang akrab disapa Gus Menteri dalam konferensi pers secara virtual di Kantor Kemendes PDTT, Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan bahwa berdasarkan data BPS tahun 2019, angka partisipasi murni (APM) anak desa di bangku Sekolah Dasar (SD) relatif sama dengan anak di kota, yaitu antara 97 persen dan 98,18 persen. Namun, kesenjangan mulai muncul di jenjang sekolah menengah, dengan tingkat pendidikan SMP di desa 74,98 persen dan di kota 81,89 persen.

"Kesenjangan semakin lebar antara 49,6 persen tingkat pendidikan SMA di desa dan 59,3 persen tingkat pendidikan anak di kota,"ucapnya.

Untuk mengatasi kesenjangan itu, Gus Menteri menilai perlu ada peningkatan upaya di desa untuk meningkatkan pendidikan anak, sehingga pembangunan desa dapat semakin cepat tercapai dengan semakin banyaknya generasi muda yang mengenyam pendidikan.

Gus Menteri mengatakan beberapa upaya yang dapat dilakukan desa untuk meningkatkan pendidikan anak antara lain diawali dengan melakukan sensus daftar anak sekolah, anak putus sekolah dan anak tidak sekolah.

Kemudian, dengan memanfaatkan Dana Desa, desa juga dapat menyalurkan bantuan biaya sekolah bagi anak tidak sekolah atau putus sekolah karena ketidakmampuan ekonomi, menyalurkan peralatan persiapan untuk masuk sekolah bagi keluarga miskin, diikuti dengan penyediaan bantuan biaya pendidikan hingga jenjang pendidikan menengah pertama dan atas.

Berikutnya, pemberian bantuan biaya pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus juga perlu disiapkan. Selain itu, desa juga perlu mempertimbangkan penyediaan smartphone dan langganan internet bersama bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu.

Menurut Gus Menteri, desa juga dapat membiayai operasionalisasi pelatihan anak-anak di luar jam sekolah, sehingga mereka memiliki tambahan keterampilan yang dapat berguna bagi kehidupan mereka di masa mendatang. (antara)