Teladani Umar bin Khattab, Khalifah Tahu Diri

Teladani Umar bin Khattab, Khalifah Tahu Diri
Ilustrasi/Net

KETIKA Umar bin Khattab sebagai khalifah membagi-bagikan harta negara (baitul maal), banyak sekali rakyat yang datang berterimakasih. Umar bin Khattab pergi menghindar dan menolak terima kasih itu dengan berkata: "Bagaimana mereka ini, kami berikan kepada mereka hak mereka, malah mereka menyangka bahwa itu pemberianku."

Luar biasa keadilan dan ketahuan diri seorang Umar bin Khattab. Pemimpin-pemimpin kini sepertinya sulit untuk meneladani beliau. Saat ini pembangunan yang memang harus dijalankan diklaim sebagai "pemberian" dirinya sendiri, padahal adalah uang negara, anggaran pembangunan dari negara, bukan dari kantongnya sendiri.

Tidak perlukah rakyat berterimakasih kepada pemimpin yang sukses membangun? Wajib mereka berterima kasih atas keberhasilan melaksanakan pembangunan, namun jangan pernah menganggap bahwa pembangunan yang dijalankan itu sebagai kedermawanan dirinya. Kalau tidak digunakan untuk membangun, lalu anggaran negara itu untuk apa? Terus untuk apa mereka digaji atau dibayar menggunakan uang rakyat?

Para pemegang amanah berkewajiban melaksanakan apa yang menjadi amanahnya. Melaksanakan amanah adalah sebuah keharusan, melalaikannya adalah pengkhianatan. Ketidakmerataan pembangunan atas nama pilih kasih adalah ketidakadilan. Semuanya pasti dimintai pertanggungjawaban.

Sudah menjadi cerita rutin bahwa menjelang pilkada pembangunan dikebut untuk diselesaikan. Para rakyat tak usah buruk sangka bahwa itu demi pencitraan, namun pemerintah juga tak usah mengklaim bahwa itu adalah kebaikan hati dan kedermawanan dirinya. Adalah kewajiban untuk menyelesaikan rencana pembangunan. Sayangnya waktunya terlalu mepet dengan jadwal pilkada. Salam, AIM. [*]