Perjalanan Emosi Manusia Saat Terjadi Pandemi

Perjalanan Emosi Manusia Saat Terjadi Pandemi
istimewa

INILAH, Jakarta - Selain masalah keuangan, masalah terbesar kedua yang dialami para ibu rumah tangga dalam survei adalah kecemasan akan Covid-19 yakni sebesar 37%.

Dua dari 10 ibu rumah tangga mengaku masih cemas dengan berita tentang Covid-19 yang mereka baca dari media sosial atau berita di intenet.

Angka 37% responden yang masih peduli dan takut degan Covid-19 menunjukkan, lebih banyak masyarakat yang sudah mulai terbiasa dan beradaptasi dengan baik. Adaptasi ditunjukkan dengan kesadaran untuk melakukan berbagai protokol pencegahan.

Protokol pencegahan yang dianggap paling penting oleh responden adalah memakai masker (51%), diikuti membatasi pergi ke luar rumah (35%) dan mencuci tangan (9%).

Secara psikologis, menurut Nina, adaptasi terhadap kebiasaan baru ini adalah tanda menuju ke tahapan rekonstruksi emosi. Anna Surti Nina menjelaskan, ada fase-fase emosional dalam kebencanaan.

Di awal pandemi, emosi akan mudah terstimulasi sehingga muncul rasa cemas dan panik. Bersamaan dengan emosi yang tersulut, muncul rasa heroik, di mana banyak relawan yang saling memberikan bantuan.

Ketika semua sudah dilakukan dan pandemi tak juga berakhir, emosi kembali jatuh ke titik terdalam. Sebagian orang mengalaminya ketika korban Covid-19 semakin banyak. Namun, seiring waktu, masyarakat mulai bisa menerima.

"Saat ini masyarakat tengah menuju emosi rekonstruksi. Artinya masyarakat sudah terbiasa dengan kebiasaan barunya. Kita menyebutnya masa densitisasi emosi yakni tidak lagi mudah merasa cemas," jelas Nina, seperti yang dikutip dari siaran pers, Jakarta, Rabu, (11/11/2020).

Meskipun begitu, rasa cemas tetap diperlukan. Tidak merasa cemas justru berbahaya karena menjadi abai. Sebaliknya cemas terlalu tinggi juga tidak baik karena beranggapan bahwa apapun yang dilakukan akan sia-sia.

Dengan menggunakan masker setiap ke luar rumah sebenarnya menunjukkan bahwa kita memiliki kecemasan (akan tertular) namun bisa beradaptasi dengan baik. "Bagi yang tidak menggunakannya, artinya belum beradaptasi," ujar Nina.

Nina mengingatkan bahwa nanti di bulan Januari-Maret, akan ada potensi terjadi lagi penurunan emosi terkait anniversary reaction.

Banyak orang yang berharap setahun setelah pandemi, kondisi akan membaik. Jika kondisi tidak seperti yang diharapkan atau pandemi masih terus berlangsuung, sangat mungkin emosi masyarakat kembali jatuh.

Yang harus dipertahankan, menurut Nina, adalah menghindari stres berkepanjangan.

"Ketika stres biasanya komunikasi dengan suami dan anak menjadi masalah, dan pada akhirnya saling menyakiti," ujarnya. (inilah.com)