Gaya Hidup Sehat di Tengah Pandemi, Penyakit Tak Mudah Menyerang

Gaya Hidup Sehat di Tengah Pandemi, Penyakit Tak Mudah Menyerang
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Menyeruaknya pandemi Covid-19 tak pelak mengubah hampir semua sektor kehidupan umat manusia di dunia. Termasuk gaya dan pola hidup keseharian.

Salah satu pelajaran penting di balik pandemi Covid-19 yang hingga kini masih melanda, yakni terdorongnya kesadaran setiap insan akan pentingnya penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam keseharian agar tak mudah terserang penyakit. Termasuk virus SARS-Cov2 atau Covid-19 yang setiap saat mengintai siapapun yang lengah akan penjagaan imunitas tubuh dan penerapan protokol kesehatannya. 

Tak kalah pentingya, pemerintah dan jajarannya juga dituntut lebih serius dan padu dalam mendorong masyarakat agar tetap mewaspadai Covid-19 yang hingga kini masih terus mengancam. Sehingga masyarakat tidak bersikap lengah dengan munculnya anggapan kalau Covid-19 sekarang ini sudah mulai melemah.

Hal itu mengemuka pada webinar "Mengarusutamakan Perubahan Perilaku untuk Menyelamatkan Masyarakat dari Pandemi Covid-19" yang digelar BBC Media Action dan Dewan Pers pada 6 November 2020.

"Selama belum ditemukan vaksin untuk Covid-19, manusia akan berdampingan dengan virus ini. Sama halnya dengan penyakit flu. Maka, PHBS menjadi penting agar tidak mudah terserang penyakit," kata salah satu pembicara, Spesialis Paru yang juga Direktur Profesional Tenaga Kesehatan RSPAD Gatot Soebroto Dewi Puspitorini.

Menurut Dewi, perubahan pola dan gaya hidup yang lebih memprioritaskan kesehatan di masa pandemi Covid-19 harus dipertahankan. 

Dia menyebutkan, pola dan gaya hidup sehat dan bersih yang dapat diterapkan di tengah pandemi Covid-19 itu antara lain dapat dilakukan dengan memperbanyak asupan makanan bergizi, mencukupi kebutuhan air putih, berolahraga secara rutin, beristirahat cukup, mengonsumsi multivitamin, menggunakan masker ketika bepergian keluar rumah, menerapkan fisikal distancing (jaga jarak fisik), dan mencuci tangan pakai sabun secara rutin.

Tak kalah pentingnya selalu menjaga pola pikir yang positif. Berpikir positif itu menenangkan perasaan di tengah kabar mengenai Covid-19. Orang berpikir positif cenderung lebih sehat dan dapat menghadapi stress yang dimilikinya dengan baik, serta lebih mudah menerapkan gaya hidup sehat. 

Dewi juga menyesalkan masih banyak orang mengenakan masker namun dengan cara yang salah. Padahal pemakaian masker yang salah itu bisa membuka peluang akan terjadinya penularan virus. Apalagi, daya serang Covid-19 menimbulkan kerusakan organ dalam, tepatnya paru-paru, dengan cepat.

"Masker melorot, kemudian dipegang bagian depannya (untuk dibetulkan lagi posisinya). Padahal yang terpapar (pada bagian depan masker) masih ada," ujarnya.

Dia mengingatkan, hasil penelitian menunjukkan, dalam kasus penularan Covid-19, orang paling sering dijumpai diserang Covid-19 adalah mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Khususnya penyakit hipertensi, diabetes, paru-paru, dan jantung. Sehinga mereka yang mengidap penyakit tersebut dituntut lebih berhati-hati akan potensi penularan Covid-19 dibanding yang lainnya.

"Orang sekitar harus dianggap OTG (orang tanpa gejala)," ingatnya.

Senada dikemukakan Satgas Sub Bidang Sosialisasi Perubahan Perilaku BKKBN Dwi Listyawardani. Dia mengatakan, informasi seputar Covid-19 harus disampaikan secara intensif kepada masyarakat agar mendukung perubahan perilaku dalam menghadapi pandemi Covid-19. Apalagi masih ada sebagian masyarakat tak memercayai adanya Covid-19. 

"Harus disampaikan, bagaimana situasi pandemi, faktor risiko, dan terakhir soal disiplin melaksanakan tiga M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun)." katanya. 

Pembicara lainnya penyintas Covid-19 yang juga wartawan Harian Umum Kompas Mohammad Bakir menambahkan, protokol kesehatan tiga M itu mestinya menjadi sesuatu hal yang wajib dilakukan guna mencegah penularan Covid-19. Namun kesadaran masyarakat akan wajibnya melaksanakan tiga M itu mesti pula disentuh melalui pendekatan kultur, keagamaan, dan lainnya. 

Dia menyoroti sejumlah kondisi yang masih menjadi kendala dalam menangani pandemi Covid-19 saat ini. Antara lain masih banyak masyarakat bersikap apatis dan kurang sense of crissis akan pandemi Covid-19, ada anggapan di masyarakat bahwa virus corona mulai melemah sehingga kewaspadaan mereka menjadi lengah, dan pemahaman masyarakat tentang OTG berbeda-beda. 
Juga, banyak kepala daerah melarang masyarakatnya melakukan PCR demi mendapatkan daerahnya dinilai masuk zona hijau. 

"Persoalannya, bagaimana (Pemerintah) Pusat memberikan pemahaman kepada kepala daerah bahwa ini genting ? Sayangnya, Pusat sendiri belum ada keseragaman," ujarnya. (Zainulmukhtar)