Teh Nia dan Kang Usman Moncer Saat Debat Publik Kedua

Teh Nia dan Kang Usman Moncer Saat Debat Publik Kedua
Foto: Dani R Nugraha

INILAH, Bandung - Pasangan calon (paslon) Bupati dan wakil Bupati Bandung nomor urut 1, Kurnia Agustina-Usman Sayogi (NU Pasti Sabilulungan), dinilai sangat menguasai berbagai materi pertanyaan yang diajukan panelis pada debat publik kedua di Kopo Square di Kecamatan Margahayu Kab Bandung pada Sabtu malam (14/11/2020) kemarin.

Paslon NU terlihat santai namun pasti dan percaya diri saat menjawab pertanyaan dari kedua paslon yang menjadi rivalnya pada pilkada Bandung 2020 itu. Jawaban yang meluncur dari keduanya pun sangat lugas berdasarkan data. Sehingga, jawaban dan tanggapannya tidak sekedar umbar janji. Namun sesuai, visi misi dan realita yang ada di Kabupaten Bandung.

Teh Nia, sapaan akrab calon bupati nomor urut 1 itu, mampu menjawab semua pertanyaan yang disiapkan panelis. Begitu dengan Calon wakil Bupati Usman Sayogi, memberikan jawaban dan tanggap dan sangat menguasai permasalahan yang ditunjang dengan pemahaman dan penguasaan data data akurat.

Pasangan ini terlihat saling mengisi dan melengkapi. Pengalaman selama ini sebagai istri dari Bupati Bandung Dadang M Naser, menjadikan Teh Nia sebagai pribadi yang matang dan kaya pengalaman dibidang pemerintahan. 

Begitu juga dengan Usman, yang memang merintis karier dari mulai sekertaris desa hingga menduduki jabatan kepala dinas pendapatan, membuatnya moncer soal urusan pemerintahan. 

Tak heran jika keduanya terlihat begitu lancar menjabarkan gagasannya soal rencana pembangunan Kabupaten Bandung ke depannya. Salah satu tanggapannya terkait rencana daerah otonomi baru (DOB) Bandung Timur, paslon NU Pasti menjelaskan dengan gamblang.

Pengamat Ilmu Pemerintahan dan Tata Negara dari Universitas Nurtanio Jamu Kertabudi menilai, debat publik sesi dua yang digelar KPU Kabupaten Bandung dan disiarkan langsung TVRI Jabar itu, terlihat lebih maju dan suasananya lebih hidup ketimbang debat pertama. Dalam debat tadi malam juga, penyelenggara memberikan ruang untuk para paslon membuka perdebatan.

"Saya apresiasi kepada KPU, debat tadi malam lebih hidup dan ada ruang untuk para paslon membuka perdebatan," ujarnya.

Jamu mengatakan, pertanyaan pada sesi I memang cukup berat bari para paslon. Karena berkaitan dengan pemahaman konsep otonomi daerah. Khususnya soal hubungan pemerintah pusat dan daerah. Dan ruang bagi daerah untuk memberikan dukungan serta bantuan pada pusat. Sebenarnya, hanya kalangan tertentu saja yang paham soal tersebut.

"Sehingga wajar jawaban dari paslon kedodoran dan tidak nyambung. Jadi kalau saya nilai secara kuantitatif dengan membagi angka 100, secara berurutan dapat dinilai 40,30,30. Sebenarnnya, kata kunci hubungan pusat daerah adalah interelasi (saling berkaitan), dan interdependensi (saling ketergantungan). Kemudian untuk sesi selanjutnya bersifat poblem solving , tentang persoalan yang dihadapi jawabannya bervariasi dan bersifat debatable," katanya.

Jamu berharap pada debat terakhir nanti, penyelenggara dan para paslon dapat lebih menampilkan debat calon wakil bupati. Karena kesan publik selama ini bahwa peran wabup saat ini hanya sekedar 'ban serep' semata. (Dani R Nugraha)