Pengamat: Satu Dekade, Gojek Berhasil Bangun Brand Image Kuat di Indonesia

Pengamat: Satu Dekade, Gojek Berhasil Bangun Brand Image Kuat di Indonesia
net

INILAH, Bandung - Pengamat ekonomi asal Yogyakarta Ardito Bhinadi menilai selama satu dekade berkiprah, Gojek telah berhasil membangun brand image yang kuat sebagai pionir transportasi online di Indonesia.

"Ketika dia membuat branding dengan nama Gojek, dia sudah menang banyak langkah dengan pesaing-pesaing yang saat ini sudah ada atau mungkin yang akan muncul suatu saat nanti," ujar Ardito saat dihubungi, beberapa waktu lalu.

"Kita lihat sudah banyak bisnis pesaing sejenis Gojek seperti Maxim, in Driver, dan startup lokal lainnya. Namun Gojek telah berhasil memanfaatkan nama yang sudah umum dikenal oleh masyarakat, yaitu ojek. Ojek sudah dikenal sejak dulu sebelum adanya transportasi online. Lalu hadir ojek online dengan nama Gojek yang mudah diterima masyarakat karena sudah familiar. Sehingga apa pun nanti nama pesaingnya, orang akan tetap menyebutnya Gojek. Maka posisi Gojek saat ini adalah pionir transportasi online di Indonesia, transportasi online ya Gojek," papar Ardito.

Menurut Ardito, kecerdasan para pengelola Gojek telah membuat perusahaan ini berhasil memperkuat fundamental bisnis yang kuat dan mampu bertahan melewati masa pandemi dengan strateginya.

Seperti diketahui, pada perayaan HUT ke-10 yang digelar Kamis (12/11/2020) lalu  Gojek mengumumkan fundamental perusahaan pada 2020 yang semakin kuat. Hal itu didukung total nilai transaksi di dalam platform Gojek group yang mencapai US$12 miliar atau sekitar Rp170 triliun. Capaian ini meningkat 10% dibandingkan tahun lalu. 

Pencapaian ini didorong antara lain transaksi dari pengguna aktif bulanan Gojek yang telah mencapai 38 juta pengguna di seluruh Asia Tenggara. Sementara itu, gross transaction value (GTV) dari layanan pembayaran digital, GoPay, saat ini telah melampaui total GTV di masa pra-pandemi seiring dengan semakin banyaknya konsumen dan merchant yang beralih ke layanan digital dan bertransaksi secara online.

Di posisi saat ini, lanjut Ardito, Gojek tidak perlu lagi melakukan strategi 'bakar uang'. Lebih baik potensi yang ada digunakan untuk memperkuat jejaring Gojek di bisnis intinya. Memperluas pasar bisnis layanan pesan antar dan logistik yang telah menjadi kebutuhan masyarakat.

"'Bakar uang' pun saat ini tidak akan berdampak besar. Orang sudah punya preferensi sendiri berdasarkan pengalamannya menikmati promo-promo yang ditawarkan. Orang sudah mulai rasional. Meskipun banyak pilihan, preferensi sendiri berdasarkan pengalaman sulit bergeser," tandas pengamat dari Pusat Studi Ekonomi Industri Skala Kecil UPN Veteran Yogyakarta itu.

Ardito berharap, setelah pandemi Covid-19 berarkhir Gojek tetap fokus dalam penguatan digitalisasi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Sebab, di Indonesia masih cukup banyak peluang besar bagi Gojek yang sudah punya pengalaman dan kepercayaan untuk terus memperkuat UMKM.

"Mungkin tidak perlu dulu ekspansi global. Banyak negara saat ini fokus membenahi ekonominya sendiri. Seperti Amerika dan Eropa pun sementara menutup ekspansi perusahaan negara lain. Saya berharap Gojek setelah pandemi masih tetap fokus memperkuat UMKM Indonesia," tandasnya. (*)