Penganiayaan Terekam CCTV dan Viral, Polisi Ringkus Lima Pelaku

Penganiayaan Terekam CCTV dan Viral, Polisi Ringkus Lima Pelaku
Kapolresta Bandung, Kombes Pol Hendra Kurniawan. (dani r nugraha)

INILAH, Bandung - Polresta Bandung berhasil meringkus lima pelaku penganiayaan yang terjadi di sebuah tempat makan di gerbang Perumahan GBI, Desa Buahbatu, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

"Kami berhasil mengindetifikasi dan menciduk lima orang pelaku penganiayaan yang kejadiannya terekam dalam kamera pengintai (CCTV) dan beredar di media sosial. Para pelaku ini warga Kabupaten Bandung," kata Kapolresta Bandung, Kombes Pol Hendra Kurniawan di Mapolresta Bandung, Soreang, Senin (16/11/2020).

Hendra mengatakan, akibat penganiayaan dengan menggunakan senjata tajam itu, korban mengalami luka pada bagian kepala, kaki, dan tangannya. Kini, korban masih menjalani perawatan di rumah sakit. "Korban masih di rumah sakit hingga kini belum bisa dimintai keterangan," ujarnya.

Hendra menyebutkan, kejadian tersebut berawal saat satu orang pelaku didatangi oleh korban. Kemudian, korban melakukan pemukulan terhadap pelaku, setelah itu mereka kembali ke sebuah kafe.

"Setelah pelaku dipukul oleh korban, korban membawa rekannya dan melakukan penganiayaan sebagaimana terekam di CCTV," katanya.

Hendra melanjutkan, hasil pemeriksaan motif para pelaku melakukan penganiayaan karena balas dendam kepada korban yang sebelumnya melakukan pemukulan. "Motifnya balas dendam," ujarnya.

Kemudian, lanjut Hendra, keluarga korban tidak menerima melihat korban diperlakukan seperti itu, keluarga korban mendatangi sebuah bangunan yang di dalamnya ada barang milik pelaku. "Keluarga korban melakukan perusakan dan pembakaran bangunan tersebut," katanya.

Hendra menambahkan, pihaknya akan memproses hukum kedua belah pihak yang terlibat aksi penganiayaan dan penyerangan itu.

"Mereka saling balas dendam dan kami proses kedua belah pihak yang bertikai ini. Korban menjadi pelaku dan pelaku juga jadi korban. Para pelaku dijerat dengan Pasal 170 KUHPidana dengan ancaman 10 tahun hukuman penjara," ujarnya. (dani r nugraha)