Faedah Hadis tentang Cerita Bohong 'Aisyah Berzina

Faedah Hadis tentang Cerita Bohong 'Aisyah Berzina

KETAHUILAH bahwa di dalam hadis tentang cerita bohong bahwa Aisyah berzina terkandung beberapa faedah, yaitu:

Pertama, kewajiban mengundi di antara beberapa istri ketika hendak mengajak pergi sebagian di antara mereka.

Kedua, bolehnya seorang suami bepergian dengan istrinya, mengajak istri safar berperang, kaum perempuan menaiki sekedup, dan laki-laki melayani perempuan ketika dalam perjalanan.

Ketiga, boleh bagi kaum perempuan keluar untuk memenuhi kebutuhannya tanpa izin suami. Ini termasuk hal-hal pengecualian.

Keempat, seseorang yang menaikkan perempuan ke atas onta dan kendaraan lainnya tidak boleh mengajak bicara perempuan tersebut jika bukan mahramnya kecuali karena suatu kebutuhan. Sebab, para sahabat hanya membawa sekedup. Mereka tidak mengajak bicara orang yang mereka duga ada di dalam sekedup.

Kelima, menolong orang yang butuh pertolongan, membantu orang yang terpisah dari rombongannya, menyelamatkan orang hilang, dan memuliakan orang yang mempunyai kedudukan sebagaimana yang dilakukan oleh Shafwan radhiyallahu anhu.

Keenam, menjaga tatakrama yang baik bersama perempuan bukan mahram, terutama ketika di tempat sepi bersamanya dalam kondisi darurat, baik di tanah lapang atau di tempat lain sebagaimana yang dilakukan oleh Shafwan radhiyallahu anha, yaitu menderumkan onta tanpa berbicara dan tanpa bertanya. Di samping itu, seyogyanya ia berjalan di depan perempuan tersebut, tidak di sampingnya, dan tidak pula di belakangnya.

Ketujuh, sunnah membaca istirja, yaitu bacaan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun ketika tertimpa musibah, baik dalam bidang agama atau dunia, baik menimpa pada diri sendiri maupun orang lain.

Kesembilan, disunnahkan menutupi desas-desus mengenai seseorang dari orang yang bersangkutan jika tidak ada gunanya menuturkan isu tersebut, sebagaimana mereka menyembunyikan isu tersebut dari Aisyah radhiyallahu anha selama sebulan. Setelah itu, Aisyah radhiyallahu anha baru mendengarnya lantaran ada suatu kejadian, yaitu pernyataan Ummi Misthah yang mencela Misthah.

Kesepuluh, sunnah bagi seorang suami bersikap lemah lembut dan berinteraksi dengan baik terhadap istrinya. Dan apabila ada sesuatu yang dapat menghalangi hubungannya dengan istri dan lain sebagainya, maka suami mengurangi sikap lemah lembutnya dan sebagainya agar istrinya paham bahwa ada sesuatu yang terjadi, sehingga si istri menanyakan penyebabnya, lalu ia dapat melenyapkannya.

Kesebelas, apabila seorang perempuan hendak keluar untuk memenuhi kebutuhannya, maka disunnahkan baginya ditemani oleh perempuan lain yang dapat membuatnya nyaman dan tidak diganggu oleh orang lain.

Kedua belas, seorang istri tidak diperkenankan pergi ke rumah orang tuanya kecuali dengan izin suaminya.

Ketiga belas, sunnah bagi suami meminta pendapat kepada orang terdekatnya, keluarganya, dan teman-temannya mengenai persoalan yang dihadapinya.

Keempat belas, terbebasnya Aisyah radhiyallahu anha dari cerita bohong yang dituduhkan kepadanya. Ia telah terbebas secara pasti berdasarkan nash Alquran. Jadi, seandainya ada seseorang yang meragukannya, wal-iyadzu billah, maka ia menjadi kafir dan murtad berdasarkan ijma kaum muslimin.

Kelima belas, keutamaan-keutamaan Abu Bakar radhiyallahu anhu sebagaimana tercantum dalam firman Allah Subhanahu wa Taala;

"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nur: 22)

Keenam belas, sunnah bersilaturrahim meskipun kepada orang-orang yang buruk serta sunnah memberi maaf kepada orang yang berbuat buruk.

Ketujuh belas, orang yang telah mengucapkan suatu sumpah dan memandang ada sesuatu lain yang lebih baik daripada mengikuti sumpahnya, maka disunnahkan baginya melakukan sesuatu yang lebih baik dan mebayar kaffarat atas sumpahnya tersebut."

(Syarh Muslim karya Imam An-Nawawi dengan perubahan).

[Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah]