Benarkah 'Aisyah Dinikahi Rasul saat Usia 6 Tahun?

Benarkah 'Aisyah Dinikahi Rasul saat Usia 6 Tahun?
Ilustrasi/Net

MUSUH-musuh Islam memang tidak akan pernah kekurangan bahan untuk menyebarkan tasykik (keraguan). Selalu ada saja akalnya dan selalu saja ada jatuh kurban di kalangan umat Islam. Anehnya, juga selalu ada yang terperosok ikut membaca situs-situs yang isinya pikiran setan. Sebenarnya agar pikiran aneh seperti itu tidak semakin melebar ke mana-mana, kita pun harus melakukan filter. Kita sepakat tidak menyebarkan isi pikiran nyeleneh seperti itu kecuali dilengkapi dengan bantahannya yang bersifat muqni'.

Memang kita tidak boleh menganggap sepi tikaman tajam dari musuh Islam, akan tetapi bukan berarti kita menghabiskan semua energi untuk mengurusi masalah yang itu-itu juga. Harus ada sebagian dari ilmuwan muslim yang mengkhususkan diri melakukan konter dan mementahkan argumentasi mereka. Agar pemikiran nyeleneh itu bisa dijawab dengan baik dan menjadi bekal buat sesama muslim untuk bersikap.

Benar bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menikahi Aisyah radhiyallahu 'anha selagi masih muda. Dan kalau itu dianggap mengganggu, kita bisa bilang apa urusan anda meributkannya. Toh Aisyah bukan diperkosa, bukan juga dipaksa. Beliau dinikahi secara sah oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, meski saat itu terbilang masih belia. Tetapi riwayat yang kuat menyebutkan bahwa meski sudah sah menjadi istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, namun beliau belum lagi berkumpul satu rumah, kecuali setelah beberapa lama kemudian, yaitu saat berusia 9 tahun.

Kalau ukuran tubuh wanita Indonesia, jangankan 9 tahun, yang usianya 25 tahun pun terkadang tubuhnya kecil seperti anak kecil. Tetapi coba perhatikan anak wanita usia 9 tahun untuk ras lainnya, seperti orang arab atau eropa. boleh jadi tubuhnya sudah sangat besar dan secara biologis sudah mengalami haid. Jangan bandingkan ukuran tubuh wanita bangsa Indonesia yang umumnya memang irit dan mungil dengan tubuh wanita arab atau eropa. Karena itu kebeliaan Aisyah jangan diukur dari usianya. Untuk ukuran wanita arab, sama sekali tidak bisa dibilang sebuah ketidak-nomalan, justru beliau saat itu sudah besar dan berkembang secara biologis.

Selain itu kita juga harus tahu bahwa budaya tiap masyarakat dalam usia pernikahan bisa sangat berbeda. Salah seorang dosen kami yang berasal dari Yaman bercerita bahwa beliau sendiri menikah pertama kali di usia 10 tahun. Sementara istri beliau saat itu berusia 8 tahun. Dan menurut beliau, usia yang menurut hitungan budaya zaman sekarang ini dianggap terlalu beliau, justru menurut budaya di negeri beliau merupakan sebuah hal yang biasa, wajar dan tidak menjadi masalah.

Sementara mungkin budaya di Mesir lain lagi. Di sana kebiasaan yang berlaku adalah ke balikannya. Para lelaki umumnya menikah di usia 40 tahun ke atas. Sehingga seorang Sayyid Qutub ketika wafat belum berstatus menikah, karena di sana memang demikian budayanya. Menikah hanya dilakukan pada saat seseorang sudah mapan dari segi finansial, pendidikan dan kemandirian lainnya. Dan hal itu terjadi setelah usianya di atas 40 tahun.

Di belahan muka bumi yang lain, ada budaya yang sama sekali tidak mengenal pernikahan. Sampai mati tidak pernah menikah dan berkeluarga. Tentunya masyarakat yang seperti ini adalah masyarakat yang tidak Islami. Dan buktinya, meski tidak mau menikah seumur hidupnya, mereka toh tetap melakukan hubungan seksual dengan ribuan orang yang berbeda. Asal suka sama suka, tidak pandang apakah dia istri tetangga, pembantu rumah tangga, rekan kerja, atasan bawahan, satpam, sopir bus, pengantar pizza, bahkan pekerja seks profesional, pokoknya mereka tetap melakukan kontak seksual.

Dan parahnya, seks bebas itu sudah mereka jalankan sejak mereka masih usia sangat dini, yaitu sejak sekolah dasar. Di Amerika, Eropa dan negeri sekuler lainnya, para peneliti mengeluarkan data yang mencengangkan dari angket di level murid-murid SD. Bahkan nyaris dalam prosentasi yang sangat besar anak-anak sejak usia SD sudah melakukan hubungan seksual layaknya suami istri.

Yang lebih mencengangkan, pola itu kemudian menyebar ke negeri timur, seperti Jepang, Korea, China dan Indonesia. Para peneliti anak mengeluarkan hasil angket yang membuat bulu roma berdiri. Bahkan sebagian besar anak usia SD di Jakarta sudah terbiasa melakukan kegiatan seksual baik dari yang paling ringan sampai yang benar-benar hubungan suami istri. Tidak terbilang hp mereka yang terkena razia dan ternyata berisi potongan klip atau jpg gambar porno.

Maka kalau orang-orang sekuler itu menghina nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dengan tuduhan melakukan pelecehan seksual kepada anak kecil, naudzubillahi min zalik, sebenarnya masyarakat sekuler yang menuduh itu justru sudah melakukannya secara sah, lewat penyimpangan seksual di level anak-anak. Dr. Said Hawwa dalam kitabnya, Al-Islam, menyebutkan bagaimana para anak sekolah yang masih belia di Jerman dan Perancis merasa malu kalau masih punya selaput dara yang utuh, belum dirobek oleh teman laki-lakinya yang sama-sama masih kecil. Siswi sekolah itu akan terkucilkan dari pergaulan lantaran dianggap tidak hidup di alam nyata.

Adalah jauh lebih bermoral Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika menikahi Aisyah radhiyallahu 'anha di usia dini, namun beliau belum langsung berkumpul dengannya. Karena ikatan nikah itu adalah ikatan yang suci, bertanggung-jawab, bermoral dan berperadaban. Sedangkan orang barat dengan segala seks bebasnya di tengah anak-anak ingusan justru tidak bermoral, biadab, dan laknat.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Ahmad Sarwat, Lc]