Dua Ratu Penipuan Asal Bandung Diringkus Dit Reskrimsus Polda Jabar

Dua Ratu Penipuan Asal Bandung Diringkus Dit Reskrimsus Polda Jabar
Foto: Ridwan Abdul Malik

INILAH, Bandung - Dua orang ratu tipu asal Kota Bandung berhasil diciduk Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Jabar. Keduanya telah melakukan penipuan sebanyak 92 kasus sejak 2012 lalu.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Erdi A Chaniago mengatakan, pengungkapan tersebut berawal dari adanya laporan polisi dari pihak PT Giordano Indonesia terkait dugaan penipuan. Kemudian polisi pun bergegas melakukan penyelidikan dan menangkap kedua pelaku yang ternyata dua saudara kandung.

"Pelakunya dua orang berinisial VA dan VI, masih ada hubungan keluarga," ucap Erdi saat ungkap kasus di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-hatta, Kota Bandung, Selasa (17/11/2020).

Berdasarkan hasil penyidikan, kedua pelaku melakukan aksi penipuan dengan modus pemalsuan bukti transfer bank. Mulanya, satu dari mereka melakukan pemesanan produk pakaian ke Giordano, setelah dilakukan pengiriman, keduanya mengirimkan bukti transfer palsu kepada pengirim barang.

Setelah pengirim barang tersadar uang pembelian barang yang dipesan pelaku belum masuk. Kedua pelaku segera melakukan pergantian nomor telefon untuk menghilangkan jejak.

"Modusnya mengirimkan bukti transfer fiktif terhadap segala sesuatu yang di pesan, bahwa yang bersangkutan sudah membayar kepada perusahaan atau seseorang yang dia pesan barangnya. Salah satunya merek Giordano. Saat yang punya barang mau konfirmasi dia modusnya mengganti handphone," ungkap Erdi.

Berdasarkan pengakuan tersangka dan hasil penyelidikan. Diketahui, kedua pelaku telah melakukan aksi penipuan sejak 2012. Tidak tanggung-tanggung, total 92 kasus penipuan telah dilakukan keduanya.

"Mereka melakukan kegiatan penipuan ini kurang lebih sejak tahun 2012. Mereka lakukan secara bergantian, sudah 92 kasus. Kerugian para korban hampir Rp1 miliar, kurang lebih Rp750 juta lebih," ujar Erdi.

Selain menipu dengan cara memalsukan bukti transfer. Erdi menjelaskan, keduanya juga kerap melakukan tindak pindana pencurian.

Modusnya, lanjut Erdi, salah satu dari pelaku memesan barang melalui aplikasi belanja online. Kemudian, pelaku memilih pembayaran dengan mekanisme cash on delivery (COD).

"Modusnya COD bayar di tempat kemudian pengirim barang datang dan di situ sudah ditunggu salah satu dari mereka. Kemudian dia ambil barang dan meminta menunggu sebentar ke kurir tapi tidak kunjung kembali. Dari keterangan hasil penyelidikan bersangkutan spesialisasi pencurian bentuk barang handphone," tutur Erdi.

Lebih lanjut, Erdi menjelaskan, barang hasil penipuan maupun pencurian digunakan untuk pemakaian pribadi. Artinya, barang-barang tersebut tidak dijual kembali oleh kedua pelaku.

"Sampai saat ini khsusunya pakaian Giordano ini tidak dijual lagi tapi digunakan. Ada yang diberikan dan sebagainya jadi hanya untuk dinikmati sendiri," ujar Erdi.

Atas perbuatan kedua pelaku, Polisi menjerat mereka dengan Pasal 51 juncto Pasal 35 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang UU Informasi Teknologi Elektronik dengan ancaman pidana maksimal 12 tahun. (Ridwan Abdul Malik)