Sikap Kami: Kejutan WJIS

Sikap Kami: Kejutan WJIS

JIKA Bank Indonesia terkagum-kagum terhadap penyelenggaraan West Java Investment Summit, yang berakhir kemarin, maka tentu ada sesuatu yang istimewa dari temu investor itu. Kami pun tak bisa menafikan bahwa pertemuan ini sukses besar.

Sederhana saja sebenarnya. WJIS yang berlangsung hanya dalam dua hari ini, terjadi di tengah pandemi. Kedua, dia digelar di tengah iklim investasi yang sedang tidak baik.

Kita tentu tidak lupa bagaimana Presiden Joko Widodo dikabarkan marah kepada Menko Maritim dan Investasi Luhut Pandjaitan dan Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia. Itu dipicu oleh rendahnya tingkat realisasi investasi.

Dua hari pertemuan itu, tercapai komitmen investasi sampai Rp256 triliun. Jauh di atas komitmen investasi di luar itu Rp124 triliun. Artinya, dalam dua hari, tingkatkan komitmennya dua kali lipat. Di antara angka itu, Rp4,1 trilun bahkan sudah masuk, bukan lagi sekadar komitmen.

Ada apa dengan Jawa Barat? Harap dicatat: komitmen investasi ini muncul saat Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja masih bayi, bahkan brojol. Masih kabur karena belum ada aturan turunannya. Jadi, abaikan dulu UU Omnibus Law ini sebagai pemicunya.

Hemat kita, meluapnya komitmen investasi ini karena pemilik modal melihat optimisme, memiliki kepercayaan terhadap Jawa Barat. Karena itu, wajar jika Jawa Barat menjadi pilihan utama investor, baik asing atau domestik. Ini pun terbukti dengan fakta paling tingginya investasi di Jawa Barat dibanding daerah-daerah lain.

Jabar, bisa kita katakan, sedang jadi primadona. Bahkan, tingginya tingkat upah buruh di Jawa Barat dibanding sejumlah daerah di Jawa lainnya, faktanya, juga tak membuat investor berpaling.

WJIS tentulah bukan akhir dari upaya menarik investasi ke Jawa Barat. Yang ada baru komitmen, meski sudah ada Rp4,1 triliun yang masuk. Sisanya masih harus diraih, dijuluk agar benar-benar sampai di Tanah Pasundan.

Maka, kecuali menanti komitmen dari para investor itu, pemerintah dan masyarakat Jawa Barat, harus terus membangun kondisi di mana pemilik modal itu betul-betul yakin sehingga investasi itu lebih cepat terwujudnya. Tentu melibatkan banyak pihak, Bank Indonesia, BKPM, pemerintah daerah dan pusat, serta sudah pasti masyarakat Jawa Barat.

Jika itu yang terjadi, maka kita memiliki keyakinan, kondisi ekonomi yang tertatih-tatih selama pandemi, akan lebih cepat pulih begitu wabah ini hilang. Usaha besar berdiri, UMKM kembali harum, dan lapangan kerja terbuka. (*)