Hingga September, DBD di Kota Bandung Capai 2.557 Kasus, 12 Orang Meninggal

Hingga September, DBD di Kota Bandung Capai 2.557 Kasus, 12 Orang Meninggal
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Rosye Rosdiani. (yogo triastopo)

INILAH, Bandung - Hingga September 2020, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bandung mencapai 2.557 kasus. Jumlah tersebut diprediksi akan mengalami peningkatan hingga akhir tahun ini.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Rosye Rosdiani mengatakan, jumlah tersebut dinilai masih rendah jika dibandingkan jumlah kasus di 2019.

"Kalau tahun lalu itu kan memang luar biasa jumlahnya, tapi dengan 2.557 itu sudah cukup tinggi," kata Rosye di Balai Kota, Jalan Wastukancana, Kota Bandung pada Rabu (18/11/2020).

Menurutnya, dari 2.557 kasus. Didapati sebanyak 12 orang meninggal dunia. Angka kasus tersebut, akan terus mengalami peningkatan mengingat tahun ini masih menyisakan satu bulan ke depan. "Itu kan data sampai September, nanti sampai akhir tahun pasti bertambah jumlahnya," ucapnya.

Namun demikian, Dinkes Kota Bandung dituturkannya akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk terus menekan angka kasus DBD di wilayah Kota Bandung.

"Kita sosialisasi terus, sampai bosan kali ya. Yang terutama itu tetap, mereka (masyarakat) melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3M, lalu gerakan satu rumah satu jumantik," ujar dia.

Menurut Rosye, pihaknya merasa prihatin dengan adanya kasus kematian akibat DBD. Sebab, dengan status kota metropolitan seharusnya hal itu tidak terjadi mengingat tersedianya fasiltas yang memadai.

Dia menambahkan, masyarakat dapat menggunakan fasilitas deteksi DBD yang tersedia di setiap puskesmas. Sehingga dengan fasilitas tersebut, penanganan bisa dapat dilakukan dengan lebih dini.

"Di Puskesmas itu sudah ada pemeriksaan NS1. NS1 itu kaya rapid-nya DBD. Jadi yang ada gejala seperti demam, tidak harus nunggu hari ketiga, cek darah, trombositnya turun dan lain-lain. Jadi dengan NS1 kita bisa tahu lebih cepat," tandasnya. (yogo triastopo)