Akta Cerai Palsu dari PA Soreang Dijual di Marketplace 

Akta Cerai Palsu dari PA Soreang Dijual di Marketplace 
Foto: Dani R Nugraha

INILAH, Bandung - Pengadilan Agama (PA) Soreang, Kabupaten Bandung membantah adanya praktik jual beli akta cerai yang dipasang disebuah aplikasi jual beli online (marketplace).

Humas PA Soreang Suharja mengatakan, pada awalnya jual beli akta cerai palsu tersebut diketahui oleh salah satu pegawai PA Soreang yang sedang membuka aplikasi marketplace, tiba-tiba muncul ada sebuah akta cerai yang dikeluarkan oleh PA Soreang.

"Kami terkejut dan mengeceknya, kami teliti lebih lanjut ternyata nomor perkaranya sama dengan data yang terdaftar di kami, sama pihaknya. Enggak tahu bagaimana kok bisa seperti itu, sedangkan dari kantor kami sudah mengeluarkan akta cerai untuk putusan tersebut," kata Suharja saat ditemui di PA Soreang, Rabu (18/11/2020).

Dalam aplikasi marketplace tersebut, akta cerai palsu ini diperjualbelikan bahkan dengan mencantumkan harga senilai Rp1.550.000. Padahal, untuk mendapatkan akta cerai dari pengadilan agama itu ada prosedurnya, dari mulai pendaftaran, pelaksanaan sidang, menunggu ketetapan hukum, sampai kemudian akta cerai tersebut keluar.

Suharja menilai dari apa yang dilihatnya, berarti ada orang-orang tertentu yang memang tidak mau direpotkan dengan mengikuti prosedur yang seharusnya.

"Mungkin itu ada orang-orang yang tidak mau ribet mengikuti pendaftaran, berkali-kali sidang, atau mengantre lama sehingga memilih cara-cara instan seperti itu," ujarnya. 

Dikatakan Suharja, setelah mendapatkan informasi adanya jual beli akta cerai tersebut, pihaknya melalui tim advokasi PA Soreang langsung bergerak cepat untuk menindaklanjutinya. Karena PA Soreang merasa dirugikan dengan kejadian tersebut.

Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah dengan melakukan siaran pers melalui website resmi PA Soreang, dimana dalam siaran pers tersebut, Ketua PA Soreang menyampaikan tiga hal. Pertama, produk akta cerai yang dikeluarkan oleh PA Soreang yang diperjualbelikan di marketplace itu murni dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Kedua, PA Soreang tidak bertanggung jawab atas penerbitan produk akta cerai yang mirip akta cerai yang diterbitkan oleh PA Soreang, yang ilegal alias tidak melalui proses pendaftaran dan persidangan perkara cerai di PA Soreang sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Ketiga, PA Soreang mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak tergiur melakukan perbuatan yang melanggar hukum dengan cara memperjualbelikan akta cerai atau melakukan transaksi jual beli akta cerai di marketplace yang jelas-jelas itu merupakan tindakan yang ilegal dan melanggar hukum.

Suharja melanjutkan, permasalahan ini sebenarnya merupakan masalah nasional yang sudah lama terjadi, hanya saja selama ini belum menemukan. Namun, karena saat ini kejadiannya menyangkut PA Soreang, jadi permasalahan ini viral di Kabupaten Bandung.

"Kami semua dari pihak PA Soreang sudah bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk para panitera-panitera se-Indonesia sudah berkoordinasi, kami iuga sudah melaporkan masalah ini ke tingkat yang lebih atas, jadi tinggal menunggu langkah selanjutnya," katanya.

Terkait langkah hukum yang akan diambil, pihaknya masih menunggu keputusan dari tingkat atas, sebab permasalahan ini terjadi di seluruh Indonesia sehingga yang dirugikan bukan hanya PA Soreang, tetapi seluruh PA yang ada di Indonesia.

Sementara itu, seorang pria yang tengah menunggu sidang perkara cerainya, Ahmad Hidayat (32) mengaku belum mengetahui terkait adanya aplikasi yang memperjualbelikan akta cerai, namun ia merasa sangat tidak setuju dan menyayangkan kalau memang hal tersebut terjadi. 

"Sayang sekali kalau ada kayak gitu, saya aja disini capek antri dari pagi, nunggu dari daftar sampai dapat panggilan, masa ada yang curang kayak gitu," katanya.

Ahmad memilih melakukan perceraian sesuai dengan prosedur yang seharusnya dibanding memilih cara instan membeli akta cerai disebuah marketplace.

"Tidak mau, lebih baik seperti ini saja, ada perjuangannya," ujarnya.

Menurutnya, dengan melakukan perceraian sesuai prosedur, tidak terlalu mahal dan memakan waktu lama. Selain itu, daftar sendiri ke pengadilan agama lebih aman dan pasti.

"Saya daftar seminggu lalu, kemudian hari ini ada panggilan sidang, katanya dua tiga kali sidang sudah beres. Bayarnya yah sesuai jarak rumah ke pengadilan, kalau saya bayar sekitar 900 ribu karena rumah agak jauh di Ciwidey," katanya. (Dani R Nugraha)