Duh, Angka Kesembuhan Pasien Covid-19 di Cianjur Masih Rendah

Duh, Angka Kesembuhan Pasien Covid-19 di Cianjur Masih Rendah
Juru Bicara Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Cianjur, Yusman Faisal. (Antara Foto)

INILAH, Cianjur- Satgas COVID-19, Cianjur, Jawa Barat, mencatat tingkat kesembuhan pasien positif COVID-19 masih di angka 50 persen karena tingginya angka kasus baru membuat persentase kesembuhan masih rendah, dan hingga saat ini 447 orang dinyatakan positif dan  menjalani isolasi di vila khusus dan rumah sakit.

Juru Bicara Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Cianjur, Yusman Faisal di Cianjur, Kamis, mengatakan jumlah pasien yang sembuh selama satu bulan terakhir baru 223 orang dari 447 orang yang menjalani isolasi di vila khusus dan rumah sakit.

"Hingga saat ini, tingkat kesembuhan masih rendah di angka 50 persen. Masih rendahnya tingkat kesembuhan, tidak seimbang dengan angka penyebaran yang semakin tinggi, salah satunya di kluster pondok pesantren, dimana 35 orang santri masih menjalani isolasi," katanya.

Sedangkan secara umum warga yang terpapar merupakan perorangan yang memiliki riwayat perjalan dari zona merah atau pegawai yang memiliki mobilitas tinggi bertemu banyak orang. Meski setiap pekan ada pasien yang sembuh, namun jumlahnya tidak sebanding dengan pasien baru yang jumlahnya meningkat sejak satu bulan terakhir.

Pemkab Cianjur terus berusaha meningkatkan penanganan cepat terhadap pasien positif yang menjalani isolasi agar tingkat kesembuhan meningkat, termasuk melakukan penelusuran cepat guna memutus rantai penyebaran, sebagai upaya menekan angka pasien positif COVID-19 agar tidak terus meningkat.

"Kami menargetkan dalam waktu dekat, angka kesembuhan dapat meningkat hingga 70 persen, bahkan penangan dan penelusuran cepat serta upaya pencegahan dengan melakukan tes cepat dan usap atau RT-PCR, akan lebih digencarkan dengan menyisir berbagai kelompok masyarakat," katanya.

Terkait tingginya angka penularan selama satu bulan terakhir, membuat pihaknya menambah ruang isolasi di rumah sakit dan vila khusus yang saat ini diterapkan sistem antrian karena penuh, sehingga pasien baru yang dinyatakan positif berdasarkan hasil uji usap (swab test) terpaksa menjalani isolasi di rumah untuk sementara.

"Nanti kalau ada ruangan kosong, baru mereka dijemput petugas. Selama isolasi mandiri, mereka mendapat pengawasan dan penanganan dari tim medis gugus tugas dan tenaga medis dari pusat layanan terdekat," katanya.*