Warga Usir Tempat Isolasi Mandiri Pasien Covid-19 Kluster PLTU Cirebon

Warga Usir Tempat Isolasi Mandiri Pasien Covid-19 Kluster PLTU Cirebon
Foto: Maman Suharman

INILAH, Cirebon -  Warga Desa Sutawinangun Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon keberatan dengan langkah PLTU Cirebon. Pasalnya, pihak PLTU seenaknya memilih Hotel Qintani yang dijadikan tempat isolasi mandiri bagi puluhan karyawan yang positif Covid-19. 

Melihat ha itu, warga setempat akhirnya mengusir secara paksa puluhan karyawan yang sedang melakukan isolasi mandiri.

"Saya dapat laporan dari kecamatan. Memang Sabtu kemarin warga mendatangi Hotel Qintani. Mereka keberatan karena wilayah mereka dijadikan tempat isolasi pasien  Covid-19," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon Alex Suheriyawan, Minggu (22/11/2020).

Dia menjelaskan, adanya penolakan warga tersebut kuat dugaan karena pihak PLTU awalnya tidak melakukan koordinasi dengan aparatur kecamatan dan desa setempat. Kalau saja ada sosialisasi atau minimal koordinasi, maka kejadiannya tidak seperti itu. 

"Saya dapat laporan dari Camat Kedawung, memang ada pengusiran. Ini karena awalnya tidak ada koordinasi. Kalau Satgas tidak salah, karena begitu ada yang positif rencana PLTU mau mencari tempat isolasi ya urusan mereka," ungkap Alex.

Namun, kata Alex, seharusnya saat kedatangan karyawan yang hendak diisolasi itu pihak PLTU menghubungi tim satgas, minimal tingkat kecamatan. Namun dari hasil laporan, mereka datang sore hari tanpa memakai APD, termasuk petugas hotel juga hanya menggunakan masker. 

"Begitupun saat mereka diusir warga pada malam harinya. Informasi yang kami dapat, mereka langsung meninggalkan hotel tanpa pengawalan satgas. Sama sekali tidak ada yang memakai APD," jelas Alex.

Sementara itu, Anggota Bidang Komunikasi Publik Tim Satgas Kabupaten Cirebon Nanan Abdul Manan menjelaskan, ada laporan dari pihak desa bahwa Hotel Qintani dijadikan tempat isolasi mandiri untuk 28 karyawan. Sayangnya, pihak desa mengaku kecewa karena sebelumnya tidak ada sosialisasi dari PLTU Cirebon. Bagaimanapun, koordinasi diharuskan karena pasti ada gejolak dimayarakat.

"Kan kejadian ini akhirnya ada gejolak. Kalau Pemkab Cirebon awalnya mengaspresiasi PLTU menyewa tempat untuk isolasi. Tapi kenapa berjalan sendiri. Kalau sudah begini, Pemkab juga yang repot," kata Nanan.

Menurut Nanan, laporan sekretaris camat Kedawung menyebutkan pengusiran tersebut memang akumulasi kekecewaan warga terhadap PLTU. Minimal melakukan koordinasi dengan pihak desa, sebelum membawa karyawan yang terpapar covid. Untuk itu pihaknya meminta Desa Sutawinangun mengirimkan surat secara resmi ke PLTU.

"Pada intinya warga tidak masalah. Tapi secara etika, lapor dulu ke pihak desa, jangan sampai asal drop saja. Di sana itu kan banyak hotel, banyak kos-kosan. Bisa kok dipakai buat isolasi mandiri asal ada komunikasi terlebih dahulu," jelasnya.

Dia memastikan, saat ini Hotel Qintani sudah kosong dari hunian pasien isolasi mandiri kluster PLTU Cirebon. Namun ironisnya, dia justru mempertanyakan kemana pihak PLTU membawa 28 pegawainya untuk diisolasi. Padahal, saat kejadian harusnya segera melakukan koordinasi dengan Satgas.
 
"Kami dari kemarin mencoba menghubungi pihak PLTU, tapi hasilnya nol. Tidak ada pengurusnya yang mencoba menghubungi Satgas sebagai kepanjangan tangan Pemkab. Mereka membawa orang yang positif, harusnya Prokes dilengkapi," tukas Nanan. (Maman Suharman)