Abdurrahman bin Auf, Konglomerat 'Bertangan Emas'.

Abdurrahman bin Auf, Konglomerat 'Bertangan Emas'.
Ilustrasi/Net

PERLOMBAAN mencapai kesempurnaan di sisi Allah yang dilakukan kalangan sahabat Nabi SAW berlangsung benar-benar seru. Saat Rasulullah meminta para sahabatnya berkontribusi untuk membiayai pasukan Islam dalam perang Tabuk, saat itulah fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) mencapai puncaknya.

Ada seorang yang dikenal sebagai konglomeratnya para sahabat Nabi di masa itu. Dia adalah Abdurrahman bin Auf. Dia termasuk generasi assabiqunal awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam). Keislamannya terjadi dua hari setelah Abu Bakar ash Shidiq memperoleh hidayah. Dia termasuk satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga.

Tatkala perintah Allah untuk hijrah ke Madinah tiba, Abdurrahman menjadi pelopor kaum Muslimin. Di kota yang dulu bernama Yatsrib ini, Rasulullah SAW mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar. Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi Al-Anshari.

Sa'ad termasuk orang kaya diantara penduduk Madinah. Dia berniat memberi Abdurrahman sebagian hartanya. Namun Abdurrahman menolak. Dia hanya minta ditunjukkan letak pasar di kota itu.

Sa'ad kemudian menunjukkan padanya di mana letak pasar. Maka mulailah Abdurrahman berniaga di sana. Belum lama menjalankan bisnisnya, dia berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk mahar nikah. Ia pun mendatangi Rasulullah seraya berkata, "Saya ingin menikah, ya Rasulullah," katanya.

"Apa mahar yang akan kau berikan pada istrimu?" tanya Rasul SAW.

"Emas seberat biji kurma," jawabnya.

Rasulullah bersabda, "Laksanakanlahwalimah(kenduri), walau hanya dengan menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkati pernikahanmu dan hartamu."

Sejak itu bisnis Abdurrahman berkembang sangat pesat. Apa pun yang diusahakannya, berkembang dengan cepat. Di kalangan sahabat, sampai ada ungkapan, seandainya Abdurrahman mendapatkan sebongkah batu, maka di bawahnya pasti terdapat emas dan perak. Dia pun dijuluki 'lelaki bertangan emas'.

Bisnisnya terus berkembang dan maju. Semakin banyak keuntungan yang ia peroleh semakin besar pula kedermawanannya. Hartanya dinafkahkan di jalan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Baca juga
Kualitas Diri dan Kualitas Kursi
Calon Ahli Surga Itu tidak Pernah Salat Malam
Sang Perusak yang Merasa Sebagai Sang Pembela
Saat perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf menyumbang 200 uqiyah emas. 1 uqiyah emas = 31,7475 gr emas. Dengan harga emas yang kini sekitar Rp500.000, maka nilai sumbangannya mencapai Rp3,175 miliar.

Abdurrahman bin Auf pernah menjual tanahnya seharga 40.000 dinar atau sekitar Rp85 miliar. Kemudian dia membagi-bagikan seluruh uang tersebut kepada para fakir miskin bani Zuhrah, orang-orang yang membutuhkan, dan kepada Ummahtul Mukminin (para istri Nabi SAW).

Dia juga pernah menyedekahkan separuh hartanya. Setelah itu dia bersedekah lagi sebanyak 40.000 dinar atau Rp85 miliar.

Ja`far bin Burqan mengatakan, "Telah sampai kabar kepadaku, bahwa `Abdurrahmn bin Auf telah memerdekakan 3.000 budak." Masih ingat, berapa harga yang harus dibayar Abu Bakar RA saat menebus Bilalyang tengah disiksa? Rp142,87 juta. Katakankah harga masing-masing budak itu Rp100 juta, maka uang yang disedekahkan Abdurrahman bin Auf RA untuk membebaskan 3.000 budak, adalah Rp300 miliar.

Imam Bukhri menyebutkan dalam kitab tarikhnya, Abdurrahmn pernah memberikan semua sahabat yang ikut perang badar dengan 400 dinar. Padahal jumlah mereka ketika itu 100 orang. Maka, santunan yang diberikan kepada para veteran perang Badar itu mencapai Rp177,2 miliar.

Menjelang wafatnya, beliau mewasiatkan 50.000 dinar untuk infaq fi sabilillah. Jumlah itu kini setara dengan Rp212,5 miliar.

Subhanallah, tulisan ini hanya menampilkan sebagian kecil dari amal-amal para sahabat yang sangat luar biasa. Mereka benar-benar memahami dan mengamalkan firman Allah dalam QS At Taubah:111 yang artinya,

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Bagaimana dengan kita? Semoga Allah melimpahi kita dengan kemauan dan kemampuan meneladani Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang mulia. Aamiin..