Mayat yang Dicaci vs Mayat yang Dipuji

Mayat yang Dicaci vs Mayat yang Dipuji
Ilustrasi/Net

KEBAIKAN dan keburukan yang dilakukan seorang mayat ketika ia hidup, itulah yang akan dikenang dan disebut-sebut oleh mereka yang ditinggalkan. Sebagaimana kisah yang dikutip di buku 'Golden Stories' ketika Rasul melihat iring-iringan jenazah.

Dikisahkan oleh Anas bin Malik:

Suatu ketika iring-iringan jenazah lewat di hadapan Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallaam, mayat itu dipuji dengan kebaikan, maka beliau pun bersabda, "Telah wajib baginya, telah wajib baginya, telah wajib baginya."

Kemudian lewatlah iring-iringan jenazah lain di hadapan beliau, tapi mayat itu dicaci dengan keburukan, maka Rasulullah bersabda, "Telah wajib baginya, telah wajib baginya, telah wajib baginya."

Umar bin Khatthab berkata, "Ibu dan Ayahku menjadi tebusan bagimu, telah lewat iringan jenazah lalu mayat itu dipuji dengan kebaikan kemudian engkau mengatakan, 'Telah wajib baginya, telah wajib baginya, telah wajib baginya.'

Setelah itu, lewatlah jenazah lain, dan mayat itu dicaci dengan keburukan lalu engkau mengatakan, 'Telah wajib baginya, telah wajib baginya, telah wajib baginya.'"

Rasulullah bersabda, "Siapa yang telah kalian puji dengan kebaikan, maka telah wajib baginya surga. Dan siapa yang telah kalian cela dengan keburukan, maka telah wajib pula baginya neraka. Kalian adalah para saksi Allah di muka bumi, kalian adalah para saksi Allah di muka bumi." (HR Muslim). (mozaik.inilah.com)