Pemangkasan libur Diprediksi Merugikan, Pelaku usaha Hotel dan Restoran Diharap Maklum

Pemangkasan libur Diprediksi Merugikan, Pelaku usaha Hotel dan Restoran Diharap Maklum

INILAH, Bandung- Wacana pemangkasan libur panjang akhir tahun dinilai akan merugikan para pelaku usaha di sektor pariwisata, termasuk hotel dan restoran. Hal itu disampaikan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat Herman Muchtar, Selasa (24/11/2020).

Herman mengatakan, pemangkasan libur akhir tahun bagi pariwisata memang dampaknya cukup besar.

"Di sektor pariwisata mengharapkan pada libur akhir tahun yang sudah direncakan oleh sebagian besar masyarakat yang ingin berwisata, khususnya ke Jawa Barat. Jelas itu merugikan dari dampak kunjungan wisatawan," ujar Herman, Selasa (24/11/2020).

Terlebih, dia melanjutkan, para pelaku usaha hotel mengharapkan tingkat okupansi di daerah tempat tujuan wisata secara rata rata bisa mencapai 70 hingga 75 persen. Meskipun, target itu tidak terjadi pada sama semua hotel.

"Ada hotel yang 100 persen, ada juga hotel yang 20 persen, yang tidak terpengaruh dengan hari libur, tergantung daerah," katanya.

Menurutnya, hotel-hotel di wilayah Bandung, Bogor, Depok, Cirebon, Kuningan, Subang, Bandung Barat, Cianjur cukup tinggi pada masa liburan. Walau demikian, ada beberapa hotel yang memiliki tingkat okupansi sedang atau tak terpengaruh pada musim liburan.

"Seperti Indramayu, Majalengka, Sumedang, Cimahi itu kan sedang kalau bicara rata-rata. Tapi ya kembali lagi, yang menentukan itu kan pemerintah, karena pemerintah menyatakan ada pemotongan pemangkasan libur akhir tahun, maka okupansi akan turun," katanya.

Kendati begitu, Herman meminta agar para pelaku usaha di sektor tersebut bisa memaklumi dengan situasi pandemi Covid-19. Mengingat, melonjaknya angka kasus baru Covid-19 digadang-gadang karena dampak dari libur panjang bukan lalu. 

"Kepada kawan-kawan, kita harus bisa memahami bahwa pemerintah pun tidak menginginkan hal seperti itu, tapi karena Covid-19 ini, belum ada titik puncak, belum turun dan landai, itu kita harus bisa memahami dengan sikap pemerintah itu," katanya. (riantonurdiansyah)