Pengamat: HGN Pemerintah Lambat Memberikan Perhatian Kepada Guru

Pengamat: HGN Pemerintah Lambat Memberikan Perhatian Kepada Guru
istimewa

INILAH, Bandung - Makna di Hari Guru Nasional (HGN) adalah, sebagai semangat untuk terus mengingatkan dan memperkuat posisi guru adalah pendidik dan pengajar yang profesional.

Penggiat Pendidikan, Dan Satriana memaparkan kesejahteraan guru honorer, dan perhatian pemerintah di tengah pandemi seperti sekarang ini, pemerintah termasuk terlambat memberikan perhatian kepada guru, terutama guru honorer yang seperti banyak pekerja lainnya juga ikut terdampak oleh pandemik Covid-19.

Dibandingkan dengan kebijakan bantuan kepada buruh atau pekerja swasta yang mempunyai penghasilan rendah, bantuan pemerintah kepada guru honorer boleh dikatakan terlambat diberikan.

"Padahal kita sejak lama sudah sering mendengar masih banyak guru honorer yang tingkat kesejahteraannya sangat rendah. Artinya, mereka pasti termasuk kelompok masyarakat yang seharusnya diprioritaskan mendapat bantuan akibat terdampak oleh pandemi yang belum juga dapat dikendalikan ini," kata Dan, Rabu (25/11/2020).

Menurut Dan, pandemi ini di sisi lain sebenarnya memberikan gambaran mengenai kondisi pembelajaran selama ini. Misalnya, soal kendala yang paling umum ditemukan dalam berbagai evaluasi pembelajaran jarak jauh (PJJ), yaitu kesulitan guru mengembangkan proses pembelajaran dalam jaringan atau daring.

Ternyata kata Dan, hal ini sebenarnya merupakan dampak kondisi selama ini ketika mayoritas guru tidak terbiasa memanfaatkan teknologi digital dan menyelenggarakan pembelajaran daring di kelasnya. Tidak mengherankan jika sekarang mereka kesulitan mengembangkan bahan ajar dan kegiatan belajar mengajar daring.

Akibatnya interaksi antara guru dan peserta sangat minim. Bahkan sebagian peserta didik mengaku hanya diberikan tugas oleh guru. Sayangnya selama PJJ ini pemerintah tidak fokus menyelesaian kendala ini secara masif dan konsisten.

"Di lapangan kita menemukan faktabelum banyak pendampingan masif terhadap guru dalam mengembangkan bahan ajar maupun metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi pembatasan sosial dan psikis peserta didik," ujar Dan.

Dia berharap, kembalikan guru menjadi profesi pengajar dan pendidik yang sesungguhnya. Kurangi atau bahkan hilangkan beban administrasi, sehingga guru bisa punya ruang untuk mengembangkan bahan ajar dan metodelogi pembelajaran yang seharusnya menjadi kompetensi dan tugas mereka.

"Semua hal tersebut dapat dilakukan jika mereka mempunyai organisasi profesi yang kuat untuk membantu mereka meningkatkan kapasitas dan mengurus hal-hal non-teknis pengajaran lain, seperti kesejahteraan dan meningkatkan posisi tawar mereka untuk mempengaruhi kebijakan di bidang pendidikan," pungkas Dan. (Okky Adiana)