Memaknai Hujan Sebagai Anugerah

Memaknai Hujan Sebagai Anugerah
Ilustrasi/Net

KEMARIN saya berada di sebuah lembah curam, duduk-duduk di padepokan yang sangat asri dan indah. Tiba-tiba turun hujan dengan kadar deras yang cukup menjadikan suasana menjadi sejuk. Lama sekali tak bertemu hujan sehingga pertemuan dengan hujan kali ini memiliki kesan. Pemilik padepokan mengajak saya berbincang makna hujan.

Perhatikanlah QS Al-Waaqi'ah ayat 68-70: ''Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapa kamu tidak bersyukur.''

Menurut ayat itu, air hujan adalah air laut yang menguap menjadi awan. Ada sekitar 45 milyar liter kubik air laut menguap setiap tahunnya. Awan itu dibawa oleh angin melintasi daratan untuk kemudian menjadi hujan yang rasanya tak lagi asin. Bukankah ini adalah sebuah anugerah? Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya manusia andai uap air lautan itu menjadi hujan yang rasanya asin. Alhamdulillaaah.

Ada pelajaran lain yang kita petik dari hujan ini. Air laut yang asin ketika naik ke langit maka saat turun ia menjadi tawar dan segar. Hati yang asin karena terus menangis dalam derita jika saja mau "naik" ke langit dengan shalat, dzikir dan doa, sungguh hati itu akan menjadi tawar kembali, segar kembali, dan ceria kembali. Salam, AIM. [*]