Prof. Aminudin Aziz: Lestarikan Bahasa Sunda

Prof. Aminudin Aziz: Lestarikan Bahasa Sunda
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Prof. Aminudin Aziz menjadi narasumber diskusi kelompok terpumpun dengan tema “Mencari Format Ideal untuk Pelestarian Bahasa dan Sastra Sunda” di Bandung, Selasa (24/11/2020). (istimewa)

INILAH, Bandung – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Balai Bahasa Jawa Barat mengadakan diskusi kelompok terpumpun dengan tema “Mencari Format Ideal untuk Pelestarian Bahasa dan Sastra Sunda” di Bandung, Selasa (24/11/2020).

Dalam diskusi tersebut, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat Dr. Syarifuddin menghadirkan empat narasumber, yaitu Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Prof. Aminudin Aziz; Tokoh dan Sastrawan Sunda Taufik Faturohman; Guru Besar bidang Linguistik Universitas Padjadjaran Prof. Cece Sobarna; dan Guru Besar Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra UPI Prof. Dingding Haerudin.

Peserta diskusi sangat antusias memperhatikan materi yang disampaikan narasumber. Mereka hadir wakil dari Dinas Pendidikan, guru-guru pelajaran Bahasa Sunda, komunitas, akademisi, dan mahasiswa.

Pada kesempatan itu, Prof. Aminudin Aziz menyampaikan optimismenya bahwa Bahasa Sunda akan tetap langgeng manakala ada penutur yang masih hidup dan memakai Bahasa Sunda. “Saya melihat dari dua perspektif, teori dan praktik. Itu terkait dengan vitalitas bahasa, nah vitalitas bahasa ini untuk Bahasa Sunda termasuk yang masih kuat,” ujar Prof. Aminudin kepada INILAH saat berkesempatan wawancara eksklusif.

Menurutnya, secara teoretis sebuah bahasa itu akan tetap langgeng manakala ada penutur yang masih hidup dan memakai bahasa itu. Nah, vitalitas Bahasa Sunda ini akan berlangsung berapa generasi? Prof. Aminudin yakin, Bahasa Sunda dalam 100 tahun ke depan masih tetap ada. Kenapa? Karena generasi berikutnya pun masih bangga memakai bahasa Sunda.

“Kedua, dari sudut praktik, di Jawa Barat ini praktik-praktik pengajaran bahasa, komunitas-komunitas bahasa juga masih ada, jadi kalau misalnya ini tetap berjalan dan lestari maka itu akan menjadi media yang kuat untuk mempertahankan bahasa Sunda,” ujarnya.

Hanya muncul persoalan, menurutnya, di kalangan orang Sunda sendiri dari hasil riset, orang Sunda tidak menjadikan bahasa Sunda sebagai identitas paling utama. Nah, inilah yang akan mengancam kepunahan bahasa Sunda.

“Maksudnya apa? Orang Sunda itu mudah beralih mode, misalnya nyaba ke Jakarta, baru saja seminggu kemudian pulang ke kampung, sudah berbahasa Betawian atau Melayu. Inilah yang menjadi kendala yang utama. Berbeda dengan orang Jawa, orang Jawa itu akan tetap bertahan dalam bahasanya,” katanya.

 

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim melantik Prof. Endang Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. sebagai Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, pada Jumat, 8 Mei 2020.

Terkait gebrakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di bawah kepemimpinannya, Prof. Aminudin bertekad untuk menyukseskan dua tugas prioritas, yaitu program literasi dan perkamusan.

“Saya sampaikan kepada Menteri, kalau dilihat dari program yang tahun 2020 saja, masih ada sembilan program prioritas. Saya katakan itu bukan program prioritas namanya, harus dipilih satu atau dua. Maka saya hanya memilih dua, yang pertama itu program literasi, karena bicara literasi ini bicara segalanya sebetulnya. Urusan penyuluhan bahasa, urusan uji kemahiran berbahasa, itu termasuk di situ,” kata mantan Wakil Rektor UPI itu.

Kedua, ini urusan yang terkait dengan perkamusan, nah ini perkamusan menjadi penting sebagai dasar bagi kita untuk penguatan corpus planning (perencanaan korpus) karena kamus, istilah, padanan-padanan ini akan menjadi rujukan bagi orang yang belajar bahasa mana yang menjadi corpus bahsa Indonesia misalnya.

“Nah ini, dua hal ini yang akan kita kuatkan, sementara yang lain akan menjadi ikutan saja,” pungkasnya. (sur)