Zakat untuk Harta yang Digadaikan

Zakat untuk Harta yang Digadaikan
Ilustrasi/Net

Ada jamah bertanya, dirinya meminjam sejumlah uang dan menggadaikan sebagian emas miliknya kepada pemberi utang sebagai jaminan. Apakah dirinya wajib mengeluarkan zakat untuk emas tersebut?

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjidmenjawab, jika ternyata emas ini sudah mencapai nishab atau Anda memiliki emas yang lain sehingga kadarnya mencapai nishab bila digabungkan dengan emas yang digadaikan, maka wajib dizakati jika sudah terpenuhi haul-nya (dalam kurun waktu setahun pent).

Status emas tersebut sebagai barang gadai atau imbal balik atas hutang tidaklah menggugurkan kewajiban zakat karena emas tersebut sepenuhnya masih berada dalam kepemilikan Anda.

Imam Nawawi berkata dalam al Majmu (5/318),

"

"Jika seseorang menggadaikan ternak atau komoditas zakat lainnya dan haul telah terpenuhi, maka wajib dikeluarkan zakatnya karena kepemilikannya secara penuh terhadap harta tersebut".

Asy-Syaikh Manshur al-Buhutiy rahimahullah mengatakan dalam Kasysyaf al-Qinaa an Matan al-Iqnaa 2/175,

. : " ."Zakat juga wajib untuk komoditas zakat yang digadaikan. Rahin dapat membayar zakat tersebut dengan menggunakan harta yang digadaikan jika diizinkan oleh murtahin".

 

Rahin diartikan sebagai orang yang menggadaikan barang (yaitu orang yang berhutang). Sedangkan murtahin adalah orang yang menerima barang gadai (yaitu si pemberi hutang).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya,

. : " : " ."Apakah zakat wajib dikeluarkan untuk harta yang digadaikan?"Beliau menjawab, "Harta gadai tetap wajib dikeluarkan zakatnya jika termasuk komoditas yang wajib dizakati. Namun, Rahin harus memperoleh persetujuan Murtahin jika ingin menggunakan harta yang digadaikan untuk membayar zakat.

Misalnya, ada seseorang yang menggadaikan ternak berupa kambing, yang mana kambing juga termasuk harta yang wajib dizakati. Dia menggadaikan kambing tersebut pada orang lain.

Zakat atas harta tersebut tetap menjadi kewajiban karena status gadai tidaklah membatalkan kewajiban zakat. Rahin boleh menggunakan sebagian harta gadai untuk membayar zakat tersebut, namun dengan persetujuan Murtahin" (Majmu Fataawa Ibn al-Utsaimin 18/34).

Seandainya pemberi hutang (murtahin) tidak memberikan persetujuan, maka pembayaran zakat bisa diambil dari harta yang lain jika ada, atau peminjam dapat menunggu hingga barang gadai tersebut ditebus lalu dikeluarkan zakatnya untuk setiap tahun yang terlewat. Wallahu alam.[ ]

Sumber : https://islamqa.info/ar/99311