Jabar Juara Inovasi

Jabar Juara Inovasi
Jabar Juara Inovasi

INOVASI Jawa Barat, One Pesantren One Product (OPOP) kembali meraih penghargaan sebagai Top 45 Inovasi Pelayanan Publik 2020 dan 5 Pemenang Outstanding Achievment of Publik Service Innovation 2020.

Duet kepemimpinan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan Wakil Gubernur Uu Ruzhanul Ulum kembali berbuah prestasi. Program One Pesantren One Product (OPOP) mendapatkan penghargaan Top 45 Inovasi Pelayanan Publik 2020 dan 5 Pemenang Outstanding Achievement of Public Service Innovation 2020 pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) 2020.

Pada gelaran yang digagas Kementerian PAN dan RB RI tersebut, program OPOP masuk dalam Top 45 Inovasi Pelayanan Publik 2020 setelah melalui penjurian, seleksi dan rapat  pleno Tim Panel Independen KIPP 2020 terhadap 99 Top Inovasi  Pelayanan Publik Tahun 2020. Hal yang sama, dilakukan pula kepada  15 Finalis Kelompok Khusus Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) 2020.

Hal tersebut diputuskan berdasarkan Surat Keputusan Menpan dan RB RI Nomor 192 tahun 2020. Di mana penghargaan diserahkan oleh Menteri PANRB Tjahjo Kumolo kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Jakarta, pada Rabu 25 November 2020.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK) Provinsi Jawa Barat, Kusmana Hartadji menilai, suksesnya program OPOP hingga berhasil meraih penghargaan pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) 2020 berkat kerjasama seluruh pemangku kepentingan atau sering di sebebut dengan unsur Akademisi, Badan Usaha, Komunitas, Pemerintahan, dan Media (ABCGM)

"Kegiatan OPOP sejak awal melibat unsur Asosiasi, Bisnis, komunitas, pemerintah dan media. Semua memiliki peran yang sangat penting dan saling melengkapi. Dunia Pendidikan banyak perguruan tinggi, pesantren, ormas Islam dalam program ini membantu dan mensupport program ini," ujar Kusmana.

Menurutnya, fungsi pesantren tidak melulu sebagai Lembaga Pendidikan dan Lembaga dakwah . Namun juga menjadi lembaga pemberdayaan ekonomi umat. Karna itu, kehadiran OPOP dalam rangka pemberdayaan ekonomi pesantren, di mana pihaknya  ingin pesantren mandiri secara ekonomi.

"Pesantren banyak di pedesaan, lewat OPOP kita ingin ada istilah ‘Tinggal di desa, rezeki kota, bisnis mendunia dan mati masuk surga’,” kata pria karib disapa Tutus ini.

Di sisi lain,  peran pendampingan dalam OPOP sangat penting. Walau diakui pendampingan itu mahal, kegiatan dilakukan agar ekonomi pesantren berkembang. “Kita tidak meninggalkan begitu saja pesantren pendampingan dilakukan agar mereka bisa terus maju. Selain itu, dengan OPOP kita juga bantu dan fasilitasi  pemasaran produk pesantren baik online maupun offline,” ungkapnya.  

Sejak awal dirancang dan diluncurkan pada November 2018 lalu, Program OPOP hadir agar mendorong pesantren di Jabar untuk mandiri secara ekonomi. Pesantren di Jabar memiliki potensi besar untuk mandiri secara ekonomi. Dari 9.000 pesantren di Jabar, sebagian besar diantara mereka masih memerlukan pendampingan usaha, mulai dari penggalian potensi hingga pemasaran.

Lewat program OPOP, pesantren bukan hanya mengikuti audisi untuk dicari yang terbaik, tapi pesantren juga akan mendapatkan  peningkatan wawasan dan pengetahuan dan  pendampingan usaha. Harapannya,  pesantren yang mengikuti program ini  akan menghasilkan produk-produk yang mampu memiliki nilai tinggi di pasar domestik maupun pasar internasional produk-produk yang dihasilkan akan dicarikan pembelinya oleh Pemprov Jabar atau biasa kita sebut dengan “off taker”.

Karena itu Tutus memastikan, Dinas KUK juga akan membantu pesantren tersebut untuk membuka pasar bagi produknya. Bahkan, akan membantu membukakan jejaring hingga link and match dengan pesantren lain yang memiliki produk berkaitan. "Untuk bidang usaha OPOP  meliputi, jasa, fashion, pertanian, makanan dan minuman, kerajinan, peternakan, perdagangan perikanan dan lainnya sesuai minat para calon peserta OPOP," katanya.

Sejak awal pendaftaran Program OPOP baik tahun 2019 maupun 2020, dia mengatakan, dilakukan secara online melalui opop.jabarprov.go.id. Berdasarkan data, pada tahun 2019 sebanyak  1565 pesantren yng mendaftar. Lolos  seleksi administrasi sebanyak 1338 pesantren. Seleksi Audisi tahap I (tingkat kecamatan) diikuti sebanyak 1287 pesantren dan lolos audisi Tahap I sebanyak 1.074 pesantren. Audisi Tahap II (tingkat kabupaten) lolos sebanyak 88 pesantren dan Audisi tahap III (tingkat provinsi) lolos sebanyak 10 pesantren. Hadiah  kisaran Rp 25.000.000 hingga Rp 400.000.000.

Program OPOP tahun 2020 mengalami penurunan dari target  tahun 2020  yang awalnya 1.000 pesantren menjadi 500 pesantren akibat Pandemi Covid 19. "Selain itu, program kegiatan yang sebelumnya banyak dilakukan secara tatap muka langsung menjadi dilakukan secara virtual. Namun ada beberapa tahapan yang sulit dilakukan virtual contoh, proses audisi  serta Pelatihan dan magang  dilakukan secara tatap muka. Kita tetap menerapkan dan memperhatikan protokol kesehatan," lanjutnya.

Dia menjelaskan, Program OPOP tahun 2020  pendaftaran secara online dan sebanyak 1.058 pesantren. Dari 1058 pesantren  yang mendaftar, lolos seleksi administrasi sebanyak 644 pesantren. Sejak 22 Juli 2020 sebanyak 644 pesantren mulai mengikuti Audisi Tahap I yang dilakukan di 5 wilayah sebanyak 500 pesantren lolos dan berhak mendapatkan hadiah / bantuan usaha serta mengikuti  pendampingan, pelatihan, pemagangan serta  audisi tahap II.

Dari 500 pesantren yang  lolos mengikuti audisi tahap II sebanyak 356 pesantren.  Penjuarian Audisi tahap II telah selesai pada 25 November 2020. Ada 60 pesantren pemenang yakni kategori scaleup 15 pesantren juara 1, 15 pesantren juara 2 dan 15 pesantren juara 3 serta 15 pesantren kategori scale up.

Adapun hadiah menjadi audisi tahap pertama, juara tingkat kecamatan sebanyak 500 pesantren dengan hadiah startup sebanyak 250 peserta masing-masing Rp 25.000.000,-, scaleup sebanyak 250 peserta masing-masing Rp 35.000.000,-. Audisi tahap kedua, juara tingkat kabupaten/ kota sebanyak 60 pesantren besaran hadiah juara 1 sebanyak 15 pesantren masing-masing Rp 200 juta, juara 2 sebanyak 15 pesantren masing-masing Rp 150 juta, juara 3 sebanyak 15 pesantren masing-masing Rp 100 juta, juara 4 sebanyak 15 pesantren masing-masing Rp 75  juta. Audisi tahap ketiga , juara tingkat provinsi sebanyak 5 pesantren dengan hadiah masing-masing Rp 400 juta.

Juri dalam seleksi audisi ini adalah juri yang kompeten dari kalangan akademisi diantaranya dari SBM ITB, Unpad, Ikopin, UIN dan universitas lainnya. Juga oleh  kalangan pengusaha sukses dan dari kalangan pondok pesantren yang bukan hanya maju dalam bidang pendidikan namun juga sukses dalam berbisnis, seperti Al-Ittifaq Ciwidey, Daarut Tauhid Bandung, Nurul Iman Bogor, Khusnul Khotimah kuningan dan Al-Idrisiyah Tasikmalaya, kalangan praktisi pengusaha sukses di Jawa Barat.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat, UU Ruzhanul Ulum sangat terharu Program One Pesantren One Product (OPOP) sebagai salah satu unggulan pasangan Gubernur-Wakil Gubernur Jabar pada masa kampanye lalu saat ini sangat dirasakan manfaatnya tidak saja oleh pesantren tetapi juga masyarakat di sekitar pesantren.

"Jujur sangat terharu mendengar penjelasan dari Ustadz Budi, Ponpes Riyadul Ulum Wadda’wah Condong Tasikmalaya salah satu pemenang OPOP tahun 2019. Bagaimana program OPOP mampu menjadikan pesantren berkembang secara ekonomi serta memberikan manfaat tidak saja pada santri, pengurus pontren tapi bagi masyarakat sekitarnya,” tutur Uu.

Efek domino dari program OPOP di daerah yakni meratanya pengembangan ekonomi di daerah. Hasil survei pertumbuhan ekonomi Jawa Barat sebelum Covid 19 mencapai 6,9% atau melebihi pertumbuhan ekonomi nasional. Namun hasil survei Bank Indonesia  angka tersebut hanya dinikmati oleh sekelompok golongan masyarakat tentu atau masyarakat kota. Untuk itu perlunya program yang berdampak pada pemerataan ekonomi.

“Pesantren biasanya ada di desa-desa  kalau uang pemerintah ada di desa artinya efeknya bisa dirasakan oleh masyarakat di desa. Nah, dengan program OPOP uang pemerintah mengalir di daerah. Pemerataan ekonomi dengan OPOP, untuk itu program ini perlu terus berlanjut agar pesantren bisa berkembang dan menjadi pemberdayaan ekonomi umat,” katanya.

Adapun Diana Sari, Tim Ahli Jabar Juara (TAJJ) yang juga salah satu Tim Juri OPOP mengungkapkan, Program OPOP tahun 2020 sudah lebih baik pelaksanaannya dibandingkan tahun 2019. Tahun 2019 jumlah peserta sebanyak 1.074 pesantren sedangkan tahun 2020 hanya 500 pesantren.

Dia menilai pelaksanaan sekarang lebih baik dan lebih terkoordinasi. Pelaksanaan mulai pendaftaran, seleksi, audisi, pelatihan, pemagangan lebih terencana. Peserta pesantren pun cukup antusias dengan kegiatan ini. Sementara untuk penjurian pada tahapan audisi proses visitasi atau kunjungan ke pesantren sangat penting dilakukan.

“Visitasi sangat penting untuk mengetahui sejauhmana keberadaan pesantren dan program pemberdayaan ekonomi yang mereka lakukan di lapangan.  Namun dengan ada pandemic covid 19 untuk tahun 2020 kegiatan visitasi dilakukan namun terbatas dan tetap menerapkan protocol Kesehatan,” jelasnya.


OPOP Berkah bagi Pesantren

PROGRAM One Pesantren One Product (OPOP) bukan sekadar ‘angin segar’ bagi pesantren justru ‘angin surga’ yang membuat pesantren mampu berdaya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Istilah ‘siapa tak kenal maka tak sayang’ memang benar untuk program OPOP.

"Jujur waktu dengar kata OPOP, kami dari pesantren  masih awam.  Apaan OPOP,” kata Ustadz Budi, Ponpes Riyadul Ulum Wadda’wah Condong Tasikmalaya salah satu pemenang OPOP tahun 2019 ketika menceritakan pengalamannya ikut program OPOP.

Budi menceritakan, Ketika itu datang alumni pesantren yang mengajak Ponpes Riyadul untuk ikut program OPOP. Alumni ini menjelaskan Panjang lebar dan menyuruh Budi untuk mendaftarkan diri program unggulan dari Gubernur-Wakil Gubernur Jabar, Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum .

"Jujur apa itu OPOP ? Kemudian kita pelajari dan ikuti, ternyata OPOP itu program luar biasa dan pantas disebut sebagai program unggulan Pemprov Jawa Barat. Walau saya akui persyaratannya cukup sulit, namun kita pelajari dan penuhi seluruh persyaratan agar bisa mengikuti program ini. Kami punya usaha nabati salah satunya membuat roti dengan pasar para santri dan guru  yang jumlahnya mencapai 3.013 orang,” papar Budi.
    
Diakuinya,  bagi kami orang pesantren persyaratan yang diwajibkan cukup berat namun bila dijalani dan diikuti tidak ada yang tidak bisa. Pontren setiap hari berpikir secara ekonomi bagaimana mnyediakan sarana dan prasarana,  memberikan insentif bagi guru, operasional pesantren dan lainnya.  

Melalui OPOP pihaknya bisa mengembangkan usaha Roti yang memang dirintis oleh pesantren. “Yang kami dapat dari OPOP ini bukan sekedar bantuan. Kalau saya analogikan OPOP  ini seperti pesantren diberi pancing, diberi umpan dan diajarkan bagaimana cara memancing. Paket lengkap, jadi pesantren bisa terus mengembangkan usahanya,” katanya.

Selama ini, pesantren  dapat bantuan dari luar sekadar umpan saja, diberikan  langsung habis. Budi beranggapan, OPOP  gagasan brilian, bukan sekedar beri bantuan, tapi merubah mindset, motivasi pesantren.
    
"Kami  jadi percaya diri . Adanya OPOP kita bertemu dengan pesantren-pesantren hebat seperti Al Idrisyah, Daarut Tauhid, Nurul Iman dan pesantren lainnya. Bertemu mereka adalah berkah tersendiri bagi kami untuk belajar dan bertukar wawasan, informasi hingga bisnis membuat kami berkembang jauh lebih baik,” ungkapnya.

Program OPOP adanya pelatihan, pemagangan, pendampingan, audisi dan lainnya sangat berharga bagi kami dalam mengembangkan usaha kami. Selama ini kami usaha di sektor nabati olahan makanan roti. Dulu pasar kita hanya santri dan guru, dengan OPOP diajarkan bagaimana agar usaha kita berkembang.

“Alhamdulillah hadiah OPOP yang ditotalkan mencapa Rp 600 juta kita gunakan untuk pengembangan usaha roti. Kita bangun Gedung OPOP untuk mengingatkan kami akan program OPOP. Selain itu, kita kembangkan usaha nabati  dengan nama ‘Latunza’ (Tidak Terlupakan) pasar tidak hanya santri dan guru, tapi masyarakat luas dengan pemasaran offline maupun online  dengan motoris mirip Gojek. Kemasan pun kami perbaiki dan sekarang mulai merekrut 8 karyawan untuk mengembangkan usaha ini,” paparnya.

Budi tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar, Bapak Ridwan Kamil dan UU Ruzhanul atas program OPOP. Dia mengajak, pesantren untuk ikut andil dalam program OPOP  agar bisa berkembang dan mandiri secara ekonomi.

"Kuncinya jangan pernah menyerah. Pesantren Sejahtera dan Mandiri, santri dan masyarakat di sekitarpun ikut sejahtera. Ini yang dirasakan oleh pesantren kami. Program OPOP juga menjadi laboratorium bagi santri kami dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan,” jelasnya. (adv)