Aplikasi Pintar Ciptaan Akademisi Unpad, Tingkatkan Komoditas Pangan

Aplikasi Pintar Ciptaan Akademisi Unpad, Tingkatkan Komoditas Pangan
Akademisi Universitas Padjadjaran (Unpad) menciptakan inovasi untuk membantu petani. (okky adiana)

INILAH, Bandung - Padi merupakan komoditas pangan utama di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Karena menjadi komoditas pangan pokok, produktivitas padi bisa menjadi indikator dari swasembada pangan di Indonesia.

Sayangnya, produksi pertanian padi di Indonesia kerap terkendala oleh sejumlah hambatan. Mulai dari faktor musim, nutrisi yang kurang memadai, hingga serangan hama. Belum lagi masih banyak petani maupun penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang belum memiliki pengetahuan yang cukup sehingga menjadi faktor penghambat tercapainya swasembada pangan di sektor padi.

Kondisi ini mendorong sejumlah dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) menciptakan inovasi untuk membantu petani dan PPL dalam produksi padi. Inovasi yang dikembangkan berupa aplikasi pada perangkat telepon pintar yang memudahkan petani dan PPL dalam mengidentifikasi kecukupan pupuk serta potensi serangan penyakit pada tanaman padi.

Aplikasi “Decision Support System (DSS) Padi” ini dikembangkan oleh tim dosen dan mahasiswa dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) dan Fakultas Pertanian Unpad.

Ketua tim penelitian Mimin Muhaemin menerangkan, DSS Padi dinilai lebih praktis untuk melakukan identifikasi tanaman padi ketimbang alat identifikasi yang ada di lapangan.

“Sebenarnya ada alat dari pemerintah berupa bagan warna daun, tetapi banyak petani yang tidak menggunakannya dengan alasan kurang praktis. Kalau lewat handphone, semua petani dan PPL pasti akan membawa,” ujar Mimin, Senin (30/11/2020).

Di sisi lain, banyak petani dan PPL yang kurang menguasai beragam permasalahan di lapangan terkait tanaman padi. Padahal, selama ini sudah banyak hasil penelitian dan publikasi ilmiah yang sudah dilakukan para ilmuwan.

Untuk itu, Mimin dan tim mencoba menjembatani hasil penelitian tersebut kepada para petani dan PPL. Pengembangan aplikasi diharapkan akan lebih efektif karena hampir semua petani maupun PPL memiliki telepon pintar.

Mimin menjelaskan, aplikasi DSS Padi dikembangkan sejak 2018. Pada awalnya, aplikasi DSS Padi awalnya bertujuan untuk petani untuk melakukan identifikasi kecukupan pemberian pupuk nitrogen pada padi.

Kemudian, dibantu dosen dari Departemen Hama dan Penyakit Tanaman Faperta Unpad, tim mengembangkan kembali aplikasi agar bisa mengidentifikasi serangan penyakit, khususnya serangan blast dan brownspot.

Sementara itu, Dosen FTIP Unpad yang juga menjadi anggota tim, Muhammad Saukat menjelaskan, untuk menggunakannya, pengguna terlebih dahulu melakukan registrasi. Registrasi ini diperlukan untuk mengidentifikasi nama pengguna, lokasi tanam, serta jenis padi yang ditanam. Nantinya, data ini akan tersimpan di database untuk keperluan pengembangan aplikasi ke depan. Selanjutnya, pengguna dapat mengunggah foto kondisi tanaman padi ke aplikasi.

Saukat menjelaskan, foto yang diunggah bisa foto yang diambil secara langsung ataupun foto yang tersimpan di galeri ponsel. Foto yang telah diunggah akan dikirim ke server untuk dianalisis. Dari foto tersebut, server akan menentukan apakah tanaman padi sudah cukup nutrisinya atau belum.

Lebih lanjut Saukat mengatakan, proses analisis foto di server tidak memerlukan waktu yang lama, bergantung pada kondisi sinyal internetnya. Tidak kurang dari 5 menit, analisis foto dapat langsung ditampilkan di aplikasi.

“Agar pemrosesan image di server lebih optimal, sebaiknya upload banyak foto dengan beberapa angle,” kata Saukat.

Selain itu, hasil analisis juga bergantung pada kualitas foto yang diunggah. Aplikasi akan memberi peringatan apabila foto tidak memadai untuk dianalisis, contohnya buram. Ke depan, Tim juga akan mengembangkan aplikasi dengan kemampuan mengolah foto lebih presisi untuk menghasilkan analisis yang lebih presisi pula. (okky adiana/sur)