FEBI UIN Bandung Gelar Kuliah Umum Nasional Fintech Syariah

FEBI UIN Bandung Gelar Kuliah Umum Nasional Fintech Syariah
Ilustrasi (okky adiana)

INILAH, Bandung - Jurusan Manajemen Keuangan Syariah (MKS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung menggelar Kuliah Umum Nasional yang bertajuk “Fintech Syariah antara Peluang dan Tantangannya di Indonesia” melalui aplikasi Zoom dan live streaming Youtobe, Senin (30/11/2020),

Pembina Asosiasi FinTek Syariah Indonesia (AFSI) Dr. Murniati Mukhlisin mengatakan bahwa Indonesia masih berada pada urutan ke-47 pada Fintech Country Rankings. Ini menunjukkan Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan Singapura sebagai negara sesama ASEAN yang berada pada urutan ketiga.

"Salah satu faktor yang mendasarinya adalah kurang siapnya sumber daya manusia dan infrastruktur di Indonesia," ucapnya.

Murniati menjelaskan, ada banyak potensi fintech dapat berkembang lebih jauh lagi di Indonesia. Hal ini karena penggunaan mobile phone yang mencapai 360 juta jiwa lebih besar dari pada total populasi Indonesia. Selain itu, terdapat 50 juta UMKM yang membutuhkan pendanaan yang dapat diperoleh dari fintech dan kolaborasi dengan 110.000 koperasi dengan 20 juta anggota tersebar di Indonesia.

“Saat ini sekitar 40 persen masyarakat Indonesia belum mempunyai akses langsung ke sektor keuangan termasuk perbankan, maka melalui fintech tingkat inklusi keuangan dapat ditingkatkan,” ungkapnya.

Menurut Murniati, dari sisi efisiensi, fintech syariah dapat mengurangi waktu tunggu, lamanya durasi transaksi, dan lamanya waktu perjalanan.

Rektor muda di Tazkia Islamic University College Bogor yang meraih gelar Ph.D.-- nya dari Universitas Glasgow, UK ini, menambahkan beberapa tantangan pengembangan Fintech Syariah di Indonesia, di antaranya mengurangi kerja manual sehingga akan berimbas pada meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia sebesar 25 persen.

Keterbukaan informasi dan kejahatan dunia maya hal ini dikarenakan dengan digitalisasi semua data yang disimpan dapat sewaktu-waktu diakses oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Kejahatan dunia maya itu seperti, cyber crime, cyber talking, carding, hacking, dan cracker. Terakhir, fintech juga dapat menyebabkan berkurangnya interaksi manusia karena semua transaksi dilakukan secara digital,” ujarnya.

Untuk menanggulangi tantangan itu, kampus mempunyai peran yang cukup besar dengan mendirikan pusat studi Fintech Syariah, memberikan kebijakan konsentrasi jurusan seperti digital marketing dan digital ekonomi.

"Selain melakukan seminar dan kuliah umum, juga menyebarkan literasi digital fintech pada masyarakat melalui program pengabdian kampus," tuturnya.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Dr. Dudang Gojali mengatakan semoga kuliah umum ini dapat memberi pengetahuan kepada mahasiswa yang nanti akan menjadi bekal yang penting dalam menghadapi realitas sesungguhnya.

“Salah satu tantangan saat ini yaitu soal pengetahuan mahasiswa yang nanti akan menjadi cikal bakal bangsa, maka diperlukan basis pengetahuan yang kuat agar peradaban bangsa Indonesia menjadi pemenang, ” tegasnya.

Dudang menyampaikan tidak mungkin menghadapi masa depan yang baik dengan pengetahuan yang lemah, salah satu basis menjadi pemenang pada saat ini yaitu berbasis Financial Technology yang menjadi hal penting bagi mahasiswa.

"Saya berharap mahasiswa mengikuti kegiatan ini dengan serius, dan setelah kegiatan ini mahasiswa harus lebih semangat dalam belajar," pungkas Dudang. (okky adiana)