Pengamat: Pembelajaran Tatap Muka Harus Sesuai Protokol Kesehatan yang Ketat 

Pengamat: Pembelajaran Tatap Muka Harus Sesuai Protokol Kesehatan yang Ketat 
istimewa

INILAH, Bandung - Kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat setiap harinya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengeluarkan kebijakan terbaru bahwa di Januari 2021 akan diadakan sekolah tatap muka untuk mengurangi kejenuhan dan semangat para siswa dalam belajar.

Melihat kondisi ini, Pengamat Pendidikan Pipin Sukandi mengatakan sistem pembelajaran di sekolah dialihkan menjadi sistem pembelajaran online. Pada masa-masa awal diberlakukannya kebijakan tersebut para siswa tidak merasa keberatan, bahkan ada beberapa siswa yang justru senang dengan diberlakukannya sistem pembelajaran online.

Namun, setelah diberlakukan selama kurang lebih 8 bulan, sepertinya para siswa mulai merasa jenuh terlebih dengan banyaknya tugas yang diberikan oleh pihak sekolah dan kurangnya penjelasan. Dijelaskan secara langsung saja terkadang siswa sulit untuk memahami apalagi dijelaskan menggunakan media video atau online.

"Tentu saja khawatir, karena bagaimanapun juga sekarang kita hidup berdampingan dengan virus corona. Terlebih Indonesia mencapai rekor harian tertinggi dengan penambahan jumlah kasus baru sebanyak 5.532 kasus dan total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 511.836 kasus," kata
Kepala Biro Kemahasiswaan Universitas Widyatama ini, Selasa (1/12/2020).

Apabila kebijakan tersebut akan benar-benar diterapkan lanjut Pipin, maka harus dilaksanakan sesuai dengan protokol kesehatan yang ketat dan harus memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditetapkan sebelum mengadakan pembelajaran tatap muka serta sistem adaptasi kebiasaan baru (AKB) harus dibiasakan.

Ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan kata Pipin, seperti, toilet bersih dan layak. Sarana cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau hand sanitizer juga disinfektan. Selain itu, mampu mengakses fasilitan layanan kesehatan, kesiapan menerapkan wajib masker, memiliki thermogun.

"Selain itu, memiliki pemetaan warga satuan pendidikan yang memiliki comorbid tidak terkontrol. Tidak memiliki akses transportasi yang aman. Memiliki riwayat perjalanan dari daerah dengan tingkat risiko Covid-19 yang tinggi atau riwayat kontak dengan orang terkonfirmasi positif Covid-19 dan belum menyelesaikan isolasi mandiri dan mendapat persetujuan komite sekolah/perwakilan orangtua atau wali," papar Pipin.

Dia berharap untuk menerapkan metode pembelajaran blended learning dimana sistem pembelajaran tatap muka atau offline, tidak dilakukan terus menerus dalam seminggu, tapi di gabungkan dengan sistem pembelajaran di rumah atau online sehingga meminimalisir penyebaran Covid-19.

"Semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu supaya kita semua dapat melakukan aktivitas normal seperti biasanya tanpa ada rasa khawatir akan tertular virus corona," tambah Pipin. (Okky Adiana)