BPOM Bandung Musnahkan Kosmetik dan Obat Ilegal Senilai Rp31,2 M

BPOM Bandung Musnahkan Kosmetik dan Obat Ilegal Senilai Rp31,2 M
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Bandung melakukan pemusnahan produk obat dan kosmetik ilegal. Total sebanyak 479 item produk kosmetik dan obat ilegal berhasil disita dan dimusnahkan. (Ridwan Abdul Malik)

INILAH, Bandung - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Bandung melakukan pemusnahan produk obat dan kosmetik ilegal. Total sebanyak 479 item produk kosmetik dan obat ilegal berhasil disita dan dimusnahkan.

Kepala Balai Besar POM Hardaningsih mengatakan, produk-produk ilegal tersebut merupakan hasil dari kegiatan pemeriksaan dan penindakan sepanjang tahun 2020. Penindakannya pun dilakukan pada tiga sektor, pertama produksi ditribusi, maupaun penjualan secara daring.

"BBPOM Bandung berhasil mengamankan produk sediaan farmasi dan pangan ilegal, yang tidak memiliki izin edar maupun yang tidak memenuhi persyaratan keamanan, khasiat dan mutu. Total sebanyak 479 item produk dengan nilai keekonomiannya sebesar Rp31,2 miliar," ucap Hardaningsih saat ditemui di kantornya, Kota Bandung, Rabu (2/12/2020).

Hardaningsih mengungkapkan, mayoritas produk kosmetik maupun obat ilegal tersebut merupakan hasil dari industri rumahan. Pada penindakan tahun ini, industri rumahan banyak ditemui di kawasan Cirebon.

"Sekarang paling banyak kita temui ada di Cirebon pembuatnya," ungkap Hardaningsih.

Lebih lanjut, Hardaningsih menyebutkan, dari seluruh produk yang disita dan dimusnahkan. Produk kosmetik ilegal masih mendominasi sejak tiga tahun terakhir. Pasalnya, nilai jual yang tinggi menjadi penyebab banyaknya produsen kosmetik ilegal.

Ada sebanyak 97 item (20,25%) produk kosmetik ilegal sedangkan produk obat tradisional ilegal sebanyak 221 item (46,13%). Selain kosmetik dan obat tradisional, produk yang dimusnahkan juga terdiri dari Obat Keras yang diedarkan di sarana ilegal sebanyak 109 item (22,75 %), dan produk pangan yang tidak memiliki izin edar dan mengandung bahan berbahaya (formalin dan boraks) sebanyak 52 item (10,87%).

"Produk kosmetik menjadi komoditi dengan taksir harga terbesar dalam tiga tahun terakhir yang diamankan dan dimusnahkan oleh Balai Besar POM di Bandung," ungkapnya.

Saat disinggung dampak produk kosmetik ilegal bagi kesehatan. Hardaningsih menjelaskan, produk seperti kosmetik ilrgal banyak mengandung bahan berbahaya seperti Merkuri, Hidrokinon dan obat tradisional yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO) seperti mengandung Sildenafil sitrat, Deksametason, dan BKO lainnya.

"Ada yang bisa berdampak pada jantung bahkan membuatnya terhenti. Kemudian produk kosmetik yang diusap ke muka juga bisa menyerap ke dalam kulit dan itu menimbulkan kanker," ujar Hardaningsih.

Hardaningsih menambahkan, diharapkan dengan adanya pemusnahan produk kosmetik maupun obat ilegal tersebut dapat memberikan efek jera bagi produsen. Selain itu, masyarakat juga diharapkan harus lebih berhati-hati dalam membeli produk kosmetik dan obat.

Salah satu cara menghindari membeli produk ilegal dengan cara melakukan pengecekan pada produk. Mulai dari izin edar, kemasan, tanggal kadaluarsanya.

Khusus untuk izin edar sebuah produk, lanjut Hardaningsih, masyarakat bisa langsung melihatnya dalam sebuah aplikasi bernama BPOM Mobile. Aplikasi ini bisa diunduh secara gratis sebagai bentuk antisipasi ketika ingin membeli produk dari manapun.

Dengan aplikasi ini kita bisa memasukan izin edar yang biasanya tertera pada kemasan produk yang dibeli. Ketika produk tidak teridentifikasi, maka barang tersebut bisa jadi palsu atau ilegal.

"Lebih mudah sekarang bisa cek langsung. Kalau tidak ada datanya, tidak keluar berarti itu (produk) palsu," pungkasnya. (Ridwan Abdul Malik)