Begini Modus Transaksi Narkoba di Masa Pandemi Covid-19

Begini Modus Transaksi Narkoba di Masa Pandemi Covid-19
Satuan Reserse Narkoba atau Sat Narkoba Polresta Bogor Kota mengungkap 18 kasus penyalahgunaan narkoba dan menangkap 21 pengedar selama bulan November 2020. (Rizki Mauludi)
INILAH, Bogor - Satuan Reserse Narkoba atau Sat Narkoba Polresta Bogor Kota mengungkap 18 kasus penyalahgunaan narkoba dan menangkap 21 pengedar selama bulan November 2020.
 
Hal itu diungkapkan Kapolresta Bogor Kota Kombes Polisi Hendri Fiuser di Mako Polresta Bogor Kota pada Rabu (2/12/2020) siang. Total jumlah barang bukti yang diamankan dari 18 kasus tersebut yaitu 102 gram sabu, 171 gram ganja dan 281 gram narkotika jenis sintetis gorila.
 

"Sat Narkoba melaksanakan rilis terhadap pengungkapan kasus penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya. Hari ini kami ada 18 kasus dengan jumlah barang bukti 102 gram sabu, 171 gram ganja dan 281 gram narkotoka jenis sintetis gorila. Jumlah tersangka dari kasus 18 ini ada 21 orang tersangka yang tersebar di masing-masing wilayah yang ada di Kota Bogor," ungkap Hendri kepada wartawan.

 
Hendri melanjutkan, kategori yang diamankan sebagai kurir atau pengedar. Sama seperti yang sebelum-sebelumnya yang biasa diekspose, para pelaku mengedarkan melalui jaringan mereka.
 
"Situasi pandemi ini tidak mengurangi penyalahgunaan narkotika ini. Kami bisa katakan ini tidak ada, kalau memang anggotanya tidak ada juga. Karena kami yakin penyalahgunaan narkotika ini kalau tidak aktif mungkin tidak bisa diamankan," tambahnya.
 
Hendri menjelaskan, para pelaku berusia porduktif 25 tahun hingga 40 tahun dan pelaku orang Kota atau Kabupaten Bogor tapi mengedarkan wilayah Kota Bogor.
 
"Ini melalui aplikasi, saya yakin ini masih ada. Makanya ini kami akan terus lakukan penyelidikan. Untuk hukuman minimal 10 tahun penjara karena dikenakan pasal 112 ayat 2 dan 114 UU 35 tahun 2009 tentang narkotika. Pengedar semuanya sudah dewasa," pungkasnya.
 
Kasat Narkoba Polresta Bogor Kota, AKP Agus Susanto mengatakan, para pelaku menurut pengakuannya mereka mendapatkan barang dari Jakarta, Depok dan Bogor serta jalur Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Dari sekian banyak yang diungkap 70 persen kebanyakan pelantar dengan sistem tempel.
 
"Jumlah pengungkapan kami agak signifikan dan sempat agak down awal Covid-19 tapi dipertengahan Covid-19 sudah mulai marak lagi. Hanya peredaran di Kota Bogor masih katagori level barang paket kecil. Dari para pelaku ada tiga residivis atau pemain lama," tuturnya.
 
Ia menerangkan, sistem online itu tidak serta merta aplikasi, tapi kategori di lapangan dengan sistem chating via aplikasi WhatsApp, bukan online seperti aplikasi jual beli. Mereka punya komunitas tersendiri biasanya. 
 
"Kami sempat ungkap dalam satu komunitas lima tersangka dalam satu WAG di tangkap satu tempat. Kebanyakan sistem online peredaran tembakau sintetis atau gorila," pungkasnya. (Rizki Mauludi)