Lagi, Dosen ITB Raih Penghargaan LIPI Young Scientist Awards 2020

Lagi, Dosen ITB Raih Penghargaan LIPI Young Scientist Awards  2020
Dosen dan Peneliti di Kelompok Keahlian Ilmu dan Teknik Material, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (FTMD ITB), Afriyanti Sumboja. (Okky Adiana(

INILAH, Bandung - Usianya masih sangat muda, baru 33 tahun. Dia berhasil meraih penghargaan LIPI Young Scientist Awards (LYSA) 2020 dari Menristek/Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro.

Ya, dia adalah Dosen dan Peneliti di Kelompok Keahlian Ilmu dan Teknik Material, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (FTMD ITB), Afriyanti Sumboja.

LYSA 2020 merupakan penghargaan kepada para ilmuwan muda berusia di bawah 40 tahun yang secara konsisten dan memiliki rekam jejak baik dalam melakukan penelitian.

Afriyanti bergabung ke Program Studi Teknik Material, FTMD ITB pada September 2018 setelah selesai menempuh S1 dan S3 di Nanyang Technological University, Singapura.

Sejak awal 2020, Afriyanti tercatat telah meraih beberapa penghargaan yaitu ”SINTA Top 50 Authors” dari Kemristek/BRIN, penghargaan dosen berprestasi bidang penelitian ITB tahun 2020 dari Rektor ITB pada acara Dies Natalis ITB ke-61, dan penghargaan LYSA 2020 pada November 2020.

Bagi Afriyanti, penghargaan LYSA 2020 merupakan amanah yang harus dijaga dan membuatnya harus tetap konsisten mempertahankan rekam jejak yang baik dalam melakukan penelitian.

Mahasiswa yang berminat untuk menekuni bidang teknik material, baik sebagai peneliti ataupun praktisi lanjut Afriyanti, dapat bertambah secara kuantitas maupun kualitas karena bidang keilmuan tersebut sangat luas dan akan terus berkembang di masa depan.

“Tak hanya perihal sumber daya manusia, soal fasilitas penunjang seperti laboratorium perlu ditingkatkan kualitasnya menjadi standar internasional. Hal tersebut akan memacu semangat para mahasiswa dan peneliti lainnya untuk terus berkarya secara optimal,” tuturnya, Rabu (2/11/2020).

Afriyanti memberikan beberapa pesan kepada mahasiswa ITB untuk terus berkarya pada bidang keilmuan yang tengah digeluti masing-masing.

“Mahasiswa harus banyak membaca isu-isu mengenai keilmuan yang tengah dipelajari masing-masing dari sumber yang kredibel. Selain itu, jadilah pembaca yang kritis dengan mengumpulkan fakta sebanyak-banyaknya dan manfaatkan kelas sebagai forum diskusi dengan dosen maupun sesama mahasiswa,” ungkapnya.


*Mematenkan Karya*

Fokus penelitian Afriyanti saat ini adalah di bidang material penyimpanan energi. Dia sedang mengembangkan beberapa material yang dapat digunakan dalam berbagai alat penyimpan energi, terutama baterai.

Menurut Afriyanti, penelitian mengenai baterai sangat menarik karena hampir seluruh aktivitas manusia membutuhkan energi listrik. Manusia juga butuh alat penyimpan energi karena tidak selalu berada di dekat sumber energi tersebut.

“Sebuah baterai wajib menyimpan energi yang banyak, bisa menghantarkan energi dengan cepat dan awet. Maka dari itu, peran teknik material adalah merekayasa material untuk meningkatkan performa penyimpanan energi,” jelasnya.

Dia mengatakan bahwa penyimpan energi dapat bermanfaat bagi masyarakat. Alat penyimpan energi dalam skala besar akan membantu Indonesia dan dunia dalam pemerataan akses untuk energi.

"Daerah-daerah yang sulit dijangkau dan jauh dari sumber energi dapat dibantu dengan menggunakan alat penyimpan energi dalam skala besar," ucapnya.

Sebelum bergabung menjadi pengajar di ITB, Afriyanti merupakan peneliti di ASTAR Institute of Materials Research and Engineering di Singapura dari 2014 hingga 2018. Sampai tahun 2020, sekitar 43 paper telah ia tulis sebagai penulis utama maupun penulis pendamping di beberapa jurnal-jurnal internasional terindeks Scopus.

Tak hanya itu, Afriyanti juga tengah disibukkan dengan mematenkan karya-karyanya. Paling terbaru adalah material komposit aluminium berpenguat serat karbon kontinyu kekuatan tinggi untuk inti penguat kabel transmisi listrik dan kabel yang menggunakan material tersebut. (Okky Adiana)