Kisah Wanita Kaya Raya dan Pergaulan Seorang Idiot

Kisah Wanita Kaya Raya dan Pergaulan Seorang Idiot
Ilustrasi/Net

PAVILIUN sederhana yang ditempati almarhum Agus, pagi ini terlihat begitu ramai. Sangat ramai malah. Hilir mudik para tetangga sibuk mempersiapkan keperluan mandi jenazah almarhum Agus, pemuda berkebutuhan khusus. Sungguh, pemandangan yang jauh berbeda 360 derajat pada saat almarhumah ibu Agus meninggal empat bulan lalu.

Adalah Agus, pemuda yang dulu hidup normal layaknya orang kebanyakan. Sulung dari empat bersaudara ini sukses dengan kariernya sebagai kepala divisi humas sebuah perusahaan asing. Namun nasib berkata lain, persoalan cinta membuat Agus kini layaknya pemuda idiot, begitulah keluarganya mengatakan. Wanita yang ditolak cintanya oleh Agus tega memantra-mantrainya lewat dukun, sampai Agus kehilangan semuanya. Hilang jati diri, hilang pekerjaan, dan hilang keluarga.

Ya, keadaan Agus itu membuat keluarganya malu dan mengasingkannya ke paviliun keluarga di daerah Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Keluarga Agus memang terkenal sebagai keluarga terpandang, memiliki banyak harta dan anak-anak yang sukses.

Nek Sukun, adalah panggilan orangorang pada ibu almarhum Agus. Nek Sukun keras dalam mendidik anak-anaknya, termasuk Agus. Tapi hal itu mengantarkan anak-anaknya menjadi orang-orang sukses, kepala keuangan bank asing, jaksa, dan yang paling kecil seorang dokter spesialis bedah terkenal di Palembang.

Sayangnya, Nek Sukun lebih dikenal sebagai orang yang tidak mau bergaul dengan tetangga, kurang bergaullah. Jangankan untuk mengobrol, nama tetangganya saja Nek Sukun banyak tidak tahu, karena kurangnya ia bergaul dengan orang-orang di sekitarnya. Buat Nek Sukun yang terpenting adalah bagaimana ia bisa terus menambah hartanya kian hari. Begitu juga Nek Sukun bersikap dengan saudara-saudara sekandungnya.

Sampai pada akhirnya, Nek Sukun meninggal. Selain ketiga anaknya, cuma ada dua satpam dan seorang asisten rumah tangga yang membaca Yasin di depan jenazah Nek Sukun. Pemakaman Nek Sukun juga hampir tidak menemukan orang untuk mengangkat kerandanya. Syukurlah masih ada tetangga yang berbaik hati mengangkat kerandanya, karena bujukan ustaz setempat.

Berbeda dengan almarhumah ibunya, Agus yang telah menjadi pemuda berkebutuhan khusus akibat wanita yang tidak berlapang dada itu, kini hidup sendiri di paviliun ditemani seorang asisten rumah tangga.

Agus idiot itu, selalu jalan mengelilingi desa di sekitar paviliun. Bertemu dengan tetangga-tetangga, preman-preman pasar, anak-anak geng motor, banyak lagi. Agus sering ngobrol ngalur-ngidul khususnya dengan anak-anak geng motor dan preman pasar, sering membagikan makanan yang dimasak asisten rumahnya.

Awalnya orang-orang risih dan aneh melihat keberadaan Agus, mereka tidak mengerti dengan apa yang Agus katakan. Agus tidak pernah jelas bicara, ia berbicara ngelantur. Tidak jelas. Tapi dia suka bertemu orang-orang. Memberi makanan, pakaian, dan apapun itu yang bisa Agus bantu.

Waktu berlalu, orang-orang telah terbiasa dengan Agus. Mereka bersikap biasa, meladeni obrolan-obrolan Agus yang tak jelas ujungnya. Dan rasa persaudaraan itu muncul, kasih sayang itu terselip di hati mereka masing-masing terhadap sosok idiot, Agus.

Empat bulan setelah ibunya meninggal, hari ini Agus dipanggil ke pangkuan Allah. Walau hanya satu adiknya yang datang di pemakaman Agus. Tapi ada ratusan orang tetangga, preman-preman pasar, dan para anggota geng motor yang datang memenuhi paviliun, membacakan Yasin dan mendoakan tempat terbaik untuk Agus di sisi Allah swt. Mereka tidak meninggalkan paviliun bahkan sama-sama menghantar jenazah Agus ke rumah terakhirnya, pemakaman.

Jenazah Agus diantar ratusan orang menuju pemakaman. Ada banyak doa-doa mengalir bersama airmata kehilangan Agus. Doa-doa yang insya Allah bisa melampangkan jalan Agus berjumpa dengan Allah swt. Semoga Agus tenang bersama-Nya, Zat yang tak akan pernah meninggalkan hamba-Nya bagaimanapun kondisi hamba-Nya. Sungguh, kejadian yang tidak dijumpai saat sang ibu wafat.

Karena demikian penting dan besarnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim Islam pun memerintahkan kita untuk berbuat baik terhadap tetangga. Allah Taala berfirman:

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri" (QS. An Nisa: 36) [Chairunnisa Dhiee]