Sikap Kami: Wahai Pemimpin Negeri

Sikap Kami: Wahai Pemimpin Negeri
Anggota kepolisian menata barang bukti terkait penyerangan polisi di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (7/12/2020). Kapolda mengungkapkan telah terjadi penyerangan pada Senin (7/12/2020) pukul 00.30 WIB di Jalan Tol Jakarta-Cikampek kilometer 50 terhadap anggota Polri yang bertugas menyelidiki informasi rencana pengerahan kelompok massa untuk mengawal pemeriksaan Rizieq Shihab, sebanyak enam dari sepuluh orang yang diduga pengikut Rizieq Shihab tewas ditembak oleh polisi karena melakukan perlawan

WAHAI para pemimpin negeri, apa yang Anda rasakan saat ini? Tidakkah terasa perpecahan kian terjadi di negeri ini? Kenapa Anda diam saja, merasa seolah-olah tak terjadi apa-apa?

Apa yang terjadi pada tengah malam di jalan tol Cikampek, saat enam orang anak negeri meregang nyawa, tidakkah mengusik nurani Anda? Siapapun yang meninggal itu, mereka adalah anak negeri. Mereka adalah juga anak-anak Anda, para pemimpin negeri ini.

Apakah mereka yang terbunuh yang salah, atau mereka yang menembak yang salah, atau justru keduanya, bukan itu soal buat kami. Tapi lihatlah, betapa kristalisasi perbedaan sikap telah membawa nyawa anak negeri sedemikian gampang hilang.

Dan, sebagai orang-orang yang memimpin anak negeri, secara moral Anda bertanggung jawab untuk kristalisasi perbedaan itu. Semestinya Anda, para pemimpin negeri, bisa merangkul semuanya. Bukan merangkul yang satu, lalu memukul yang lainnya. Itu tidak elok. Sangat riskan untuk negeri dengan beragam corak perbedaan ini.

Anda adalah pemimpin di negeri ini. Pemimpin untuk semua warga. Laksana ayah, jangan terus-menerus Anda pukul anak yang “nakal”. Sekali-kali coba Anda rangkul, Anda ngemong, sehingga syakwasangka, saling curiga, yang jadi biang keributan, bisa dicarikan jalan lurusnya.

Jalan lurus yang berkeadilan. Sebab, keadilanlah yang bisa membuat seseorang paham apresiasi dan konsekuensi. Keadilan itu bukan pada angka-angka, tapi pada rasa. Rasa yang universal. Berat? Memang berat, tapi untuk itulah Anda dipercaya menjadi para pemimpin di negeri ini.

Rasa keadilan itu bisa tercipta jika hukum benar-benar diberlakukan setara. Tidak adil jika seseorang mencemooh dicubit, sementara yang lain mencemooh dibiarkan saja. Takkan muncul rasa keadilan jika seseorang begitu cepat dipanggil, yang lain sudah berhulan-bulan tiada perkembangan. Tak adil jika pencoleng uang negara dihukum ringan, pencuri uang tetangga dihukum berat.

Tentu, tentu, Anda para pemimpin negeri tidak bisa ikut serta mempengaruhi proses hukum. Tapi ingat, menciptakan keadilan dan rasa keadilan adalah tanggung jawab utama Anda.

Percayalah wahai para pemimpin negeri, hanya dengan begitulah pertikaian ini bisa diredam. Janganlah lagi bangsa ini, yang sudah dibangun dengan nyawa dan darah para pendahulu kita, tiba-tiba seperti mencekam laksana yang terjadi di jalan tol itu. Rangkul, rangkullah mereka yang berseberangan, mereka yang hendak menyempalkan diri. Bukankah begitu sikap dan tindak yang diamanahkan Pancasila itu? (*)