Pertimbangan Maslahat dan Mafsadat soal Pemilu

Pertimbangan Maslahat dan Mafsadat soal Pemilu
Ilustrasi/Antara Foto

TENTU saja, kita semua berharap agar negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang mampu menjalankan amanat berat dan kursi panas tersebut dengan sebaik-baiknya. Sebagai umat Islam, tentu kita akan penasaran dan mulai memikirkan kepada siapakah pilihan kita akan kita berikan?

Nah, untuk membantu saudara-saudaraku semua, berikut ini kami akan sampaikan kriteria pemimpin dalam Islam sehingga bisa dijadikan sebagai bahan renungan untuk menentukan pilihan nanti. Ikut pilkada atau golput saja? Masalah ini diperselisihkan para ulama yang mutabar tentang boleh tidaknya kita mencoblos dalam pemilu, karena mempertimbangkan kaidah maslahat dan mafsadat.

Pendapat Pertama: Sebagian ulama berpendapat tidak boleh berpartisipasi secara mutlak seperti pendapat mayoritas ulama Yaman karena tidak ada maslahatnya bahkan ada mudaratnya.

Pendapat Kedua: Sebagian ulama lainnya berpendapat boleh untuk menempuh mudarat yang lebih ringan seperti pendapat asy-Syaikh Abdul Aziz ibn Baz, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, dan lain-lain, karena "Apa yang tidak bisa didapatkan seluruhnya maka jangan ditinggalkan sebagiannya" dan "Rabun itu lebih baik daripada buta". Dan pertimbangan semua itu dikembalikan kepada para alim ulama dan para penuntut ilmu terpercaya di negeri/daerah masing-masing yang mengerti situasi dan kondisi setempat.

Dan pendapat inilah yang lebih kuat Insyallah sesuai dengan kaidah "Menempuh mafsadat yang lebih ringan" dan ini bukan berarti mendukung sistem demokrasi yang memang bertentangan dengan sistem Islam.

Oleh karenanya, hendaknya kita berlapang dada dengan perbedaan pendapat dalam masalah ini dan bagi yang memilih maka hendaknya bertakwa kepada Allah dan memilih pemimpin yang lebih mendekati kepada kriteria pemimpin yang ideal dalam Islam yaitu al-Qawwiyyu al-Amin (memiliki skill lagi amanah), juga tentunya yang memiliki perhatian agama Islam yang baik dan memberikan kemudahan bagi dakwah Ahlussunnah wal Jamaah, bukan memilih karena kepentingan duniawi semata. [konsultasisyariah]