Mencari Pemimpin Sesuai Syariat Islam

Mencari Pemimpin Sesuai Syariat Islam
Ilustrasi/Net

SAAT ini calon-calon kepala daerah atau pemimpin telah bermunculan. Mereka telah mengajukan persyaratan-persyaratannya kepada komisi pemilihan di daerah masing-masing. Bahkan saat ini para calon pemimpin tengah berkampanye mencari simpatik masyarakat.

Dari kampaye itulah masyarakat mengetahui visi dan misi para calon pemimpin mereka. Namun, sebelum menjatuhkan pilihan saat pencoblosan, masyarakat sebaiknya menyelidiki dulu rekam jejak mereka agar tidak salah pilih.

Berikut di bawah ini adalah pedoman bagi masyarakat atau umat Islam untuk memilih pemimpin dan kriterianya menurut syariat Islam. Agama yang sempurna ini telah mewajibkan penguasa untuk senantiasa melingkupi rakyat dengan nasihat, tidak mengambil harta rakyat atau menyia-nyiakannya serta memerintah rakyat dengan adil.

Rasul saw bersabda: Tidaklah seorang pemimpin mengurusi urusan kaum Muslim, kemudian tidak bersungguh-sungguh untuk mengurusi mereka dan tidak menasihati mereka, kecuali dia tidak akan masuk surga bersama mereka. (HR Muslim).

Menasihati rakyat itu di antaranya dengan menunjukkan kepada mereka kebaikan dan kemaslahatan agama dan dunia; tolong-menolong dalam ketakwaan, bukan dalam kemaksiatan; menutup aurat dan aib mereka; mewujudkan manfaat untuk mereka dan menolak madarat dari mereka; melakukan amar makruf nahi mungkar kepada mereka; menunaikan hak-hak mereka; tidak menzalimi dan menipu mereka; tidak memakan harta mereka secara zalim; serta mendorong mereka untuk menunaikan semua bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Baca juga

Tips Bergaul Menurut Syariat Islam


Doa Rasulullah Saat Ditimpa Kesusahan


Cara Agar Jin tak Melihat Kita

 

Rasul saw memperingatkan seorang pemimpin agar tidak menipu dan mengkhianati rakyat:

Tidaklah seorang pemimpin mengurusi rakyat kaum Muslim lalu mati dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah mengharamkan bagi dia surga. (HR al-Bukhari).

Menipu rakyat itu di antaranya dengan menilap harta milik rakyat, menyerahkan kekayaan alam milik mereka kepada pihak swasta dan asing, menyia-nyiakan amanah dengan jalan menyerahkan urusan kepada orang yang tidak layak, menghalangi apa yang menjadi hak rakyat, dan sebagainya.

Lalu bagaimana jika pemimpin itu justru mengubah apa yang menjadi hak rakyat menjadi kewajiban rakyat, melepaskan kewajibannya untuk menyediakan pelayanan kesehatan untuk rakyat dan malah mewajibkan rakyat untuk membiayai sendiri pelayanan kesehatan untuk mereka, memaksa rakyat untuk membayar mahal pendidikan yang seharusnya menjadi hak mereka yang wajib dipenuhi oleh negara atau penguasa, dan sebagainya? Padahal pemimpin itu seharusnya memenuhi semua kebutuhan rakyat, sebagaimana yang diperingatkan Rasul saw:

Siapa saja yang mengurusi urusan masyarakat, lalu ia menutup diri dari orang yang lemah dan membutuhkan, niscaya Allah menutup diri dari dirinya pada Hari Kiamat. (HR Muslim).[]