Ikuti Rasulullah dengan Cinta, Kasih dan Senyum

Ikuti Rasulullah dengan Cinta, Kasih dan Senyum
Ilustrasi/Net

PARA pecinta adalah orang-orang yang tak suka tidur dan tak suka cepat-cepat tidur, karena bagi mereka keadaan terjaga adalah lebih nyata dan lebih indah. Mereka yang mengaku cinta namun suka tidur adalah orang-orang yang mengejar impian karena gagal menikmati cinta yang sesungguhnya.

Mereka yang mengaku cinta kepada Allah akan menikmati malam hari di saat keberduaannya denganNya tak banyak yang mengusik, menikmati setiap bacaan shalat sebagai komunikasi cinta, menikmati ayat-ayat al-Qur'an sebagai bentuk mendengarnya hati akan kalam Ilahi, dan menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang sama-sama mengejar kebersamaan denganNya.

Mereka yang mengaku cinta kepada Nabi Muhammad SAW adalah mereka yang menikmati pembacaan shalawat olehnya sendiri dan oleh orang lain sebagai wujud cinta, rindu dan harap bersama beliau di akhirat kelak, menikmati pembacaan sejarah beliau untuk ditiru dan diteladani, menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang sama-sama mencintainya.

Mereka yang mengaku cinta kepada Allah dan Rasulullah adalah mereka yang mencintai apa yang dicintai Allah dan Rasulullah, menghormati apa yang dihormati oleh Allah dan Rasulullah. Allah berfirman: "Sungguh Kami muliakan anak cucu Adam," karenanya kita harus memuliakan kemanusiaan manusia.

Allah berfirman: "Tidak Kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam," adalah berita yang harus diikuti umatnya sebagai penebar rahmat dan bukan penebar laknat.

Rasulullah mengajarkan cinta, bukan mengajarkan benci. Rasulullah mengajarkan kasih sayang, bukan mengajarkan caci. Rasulullah mengajarkan senyum, bukan mengajarkan merengut. Mari kita ikuti Rasulullah dengan mengikuti madzhab cinta, kasih sayang dan senyum. Salam Maulid, AIM.