Inggris Tanda Tangani Kesepakatan Perdagangan Bebas dengan Singapura

Inggris Tanda Tangani Kesepakatan Perdagangan Bebas dengan Singapura
Ilustrasi (Antara)

INILAH, Singapura - Inggris mengklaim kemunculannya kembali sebagai kekuatan perdagangan besar menyusul penandatanganan kesepakatan perdagangan bebas dengan Singapura pada Kamis (10/12/2020).

Kesepakatan itu menjadi pakta global paling baru bagi Inggris yang tengah bersiap untuk mengakhiri masa transisi keluar dari Uni Eropa pada 31 Desember.

Penandatanganan kesepakatan antara Menteri Perdagangan Inggris Liz Truss dan Mendag Singapura dilakukan saat para pemimpin dari Inggris dan Uni Eropa berupaya mencapai kesepakatan pakta perdagangan baru dan menghindari apa yang ditakuti oleh sejumlah pihak sebagai akhir yang kacau dari proses lima tahun keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau 'Brexit'.

Perjanjian itu sebagian besar mencerminkan perjanjian yang masih berlaku antara Singapura, yang merupakan bekas jajahan Inggris - yang merdeka pada 1965 - dengan Uni Eropa.

"Lima puluh lima tahun setelah kemerdekaan Singapura, Inggris muncul kembali sebagai negara yang sepenuhnya merdeka, dan kekuatan utama dalam perdagangan global," kata Truss menjelang penandatanganan.

"Bersama-sama, kami membuka jalan untuk masa depan yang lebih cerah, kaya akan potensi, dan peluang ekonomi."

Inggris merupakan mitra perdagangan terbesar ketiga untuk barang dan terbesar kedua untuk jasa, serta tujuan utama untuk investasi di Eropa bagi Singapura, negara-kota yang kaya dengan populasi 5,7 juta jiwa.

Total angka perdagangan bilateral antara kedua negara mencapai 13,5 miliar dolar AS pada 2019, menurut figur resmi Singapura.

Inggris secara resmi meninggalkan Uni Eropa pada akhir Januari dan telah menghabiskan tahun ini untuk bernegosiasi terkait hubungannya di masa depan dengan Brussels dan mencapai kesepakatan-kesepakatan dagang dengan ekonomi-ekonomi besar seperti Jepang dan Kanada.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan kepala eksekutif Uni Eropa telah mengatur batas waktu hingga akhir pekan ini untuk menyelesaikan sebuah pakta perdagangan usai gagal mengatasi perpecahan yang terus menerus.

Kegagalan menyetujui aturan baru untuk mengatur segala hal, mulai dari perdagangan hingga hubungan energi, akan mengganggu perbatasan, mengejutkan pasar keuangan dan menabur kekacauan melalui rantai pasokan di dunia yang sudah bergulat dengan dampak ekonomi dari Covid-19. (antara)