Sulit Tidur Mengganggumu? Klinik Gangguan Tidur  Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat Solusinya

Sulit Tidur Mengganggumu? Klinik Gangguan Tidur  Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat Solusinya

INILAH, Bandung,- Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat memiliki Klinik Gangguan Tidur.  Di sana, masyarakat bisa berkonsultasi mengenai gangguan tidur hingga mendapatkan terapi untuk mengatasi gangguan tidur yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari.

 

Setiap orang memiliki kebutuhan tidur yang berbeda, normalnya sekitar 6-8 jam, dan dapat meningkat setelah melakukan aktivitas fisik, olahraga, sakit, kehamilan, tekanan mental dan peningkatan aktivitas mental. Elly menjelaskan bahwa siklus tidur secara teori dipengaruhi oleh berbagai macam kondisi, termasuk bertambahnya usia serta asupan makanan. Kalau siklus tidur terganggu dan gangguan itu tidak ditangani dengan baik, maka akan berdampak pada emosi, konsentrasi, dan kerja organ tubuh.

 

"Tidur berguna untuk memulihkan energi yang hilang ketika melakukan aktivitas, memperlancar produksi hormon pertumbuhan tubuh, meningkatkan kekebalan tubuh, dan meregenerasi sel-sel yang rusak. Namun, tidak semua tidur berkualitas. Tidur yang tidak sesuai dengan pola normal akan menyebabkan gangguan tidur pada sebagian orang yang mengalaminya," papar Elly.

 

Elly menyampaikan bahwa  Gangguan tidur atau Insomnia adalah kondisi ketika seseorang kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur, setidaknya berlangsung selama satu bulan dan menyebabkan gangguan dalam aktivitas sehari-hari.

 

Gangguan ini membuat tubuh tak memiliki waktu tidur yang dibutuhkan, dan dapat membuat kondisi menjadi kurang fit dalam melakukan aktivitas.

 

Insomnia bisa terjadi pada beberapa keadaan,  kesatu karena kebiasaan sebelum tidur yang tidak baik, jet lag, atau konsumsi kafein yang berlebihan. Kedua, dapat disebabkan oleh gangguan jiwa, seperti Gangguan Cemas atau Depresi.

 

Ketiga, bisa terjadi saat mengalami gangguan siklus sirkardian, gangguan tidur ini terjadi karena pola yang persisten atau berulang, karena jadwal tidur-bangun yang berubah atau terdapat kesenjangan antara siklus alami tidur-bangun dengan kebutuhan tidur seseorang, seperti yang terjadi pada pekerja yg bekerja secara shift.

 

Keempat, gangguan tidur berjalan atau somnabulisme (sleepwalking), pada gangguan ini membuat pasien sering bangun, berjalan atau melakukan aktivitas dalam keadaan tidur dan tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.

 

Kelima,  keadaan nightmare atau mimpi buruk, gangguan ini menyebabkan pasien sangat sering mengalami mimpi buruk dan membuatnya takut untuk tidur atau berkali-kali terbangun saat malam hari. Mimpi buruk sering melibatkan bahaya fisik yang mengancam di dalam mimpi atau memiliki tema menyedihkan dan emosi negatif. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan aktivitas seperti pekerjaan, berkendara dan berkonsentrasi.

 

Keenam, keadaan sleep terror atau terror tidur. Sering terjadi pada anak-anak, terutama usia 4-8 tahun. Penderita tampak ketakutan, berteriak, hingga memukul seseorang saat masih tertidur. Kondisi ini dapat terjadi ketika anak sedang kelelahan atau demam. Jelas Elly

 

Saat ini, melalui Sleep Study, Polisomnografi menjadi "GOLD STANDAR” untuk pemeriksaan penunjang pasien dengan gangguan tidur.  Dokter akan mendiagnosis gangguan tidur dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang dengan menggunakan Polisomnografi , papar Elly.

 

Dengan Sleep Study maka aktifitas selama tidur, yaitu sel otak, tegangan otot, pergerakan bola mata, aliran nafas, denyut utama jantung, kadar oksigen dalam darah, dan lain-lain, dapat direkam.

 

Elly menyampaikan bahwa terapi terbaik pada gangguan tidur yaitu mengatasi penyebabnya. Sehingga penatalaksaan dapat diberikan sesuai dan tepat sasaran. Secara umum penanganan gangguan tidur terbagi menjadi dua kelompok besar.  Penanganan pertama yaitu farmakoterapi atau obat-obatan, diberikan jika gangguan tidur tidak berhasil diatasi dengan non farmakoterapi.

 

Obat-obatan hanya boleh diberikan oleh dokter dan diberikan dalam jangka waktu singkat  dan Penanganan kedua yaitu non farmakoterapi, diantaranya adalah sleep hygiene. Sleep hygiene bertujuan untuk mengatur pola hidup dan lingkungan sehingga kualitas tidur dapat meningkat.

 

Selain itu, lanjut Elly, dapat juga melakukan sleep restriction. Terapi ini dilakukan dengan membatasi waktu terjaga di tempat tidur sebelum tidur. Sebelum terapi dimulai, pasien diminta membuat sleep log (buku harian tidur) selama 2 minggu untuk mengetahui perbandingan waktu benar-benar tertidur di tempat tidur dibandingkan dengan seluruh waktu yang dihabiskan di tempat tidur (sleep efficiency). Pasien hanya diijinkan tidur sejumlah waktu yang dihabiskan benar-benar tidur di tempat tidur (tapi tidak boleh kurang dari 5 jam), sehingga pasien akan mengalami peningkatan dorongan untuk tidur. (rilis)