BNN Kabupaten Garut Fokus Bentuk Masyarakat Imun terhadap Penyalahgunaan Narkoba

BNN Kabupaten Garut Fokus Bentuk Masyarakat Imun terhadap Penyalahgunaan Narkoba
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Guna meningkatkan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika (P4GN) di Kabupaten Garut, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Garut memokuskan perhatian pada terbentuknya masyarakat yang memunyai ketahanan dan kekebalan terhadap penyalahgunaan narkoba melalui berbagai program kegiatan. 

Hal itu perlu sebagai langkah preventif untuk merespon keadaan bangsa Indonesia yang darurat narkoba. Semua pihak, mulai pemerintah, aparat penegak hukum hingga rakyat secara umum tidak bisa berpangku tangan melihat narkoba yang merupakan kejahatan terorganisir perang modern itu menghancurkan bangsa dan negara. 

Imunitas terhadap penyalahgunaan narkoba terutama ditujukan pada kalangan generasi muda yang memang menjadi target pasar jaringan sindikat narkoba. Hal itu dikemukakan Kepala BNN Kabupaten Garut Irzan Haryono mengevaluasi kiprah BNN Kabupaten Garut di tengah pandemi Covid-19 selama 2020 di Gedung BNN Kabupaten Garut Jalan Patriot Tarogong Kidul, Selasa (15/12/2020). 

"Narkoba merupakan pemicu berbagai tindak pidana dengan menyasar generasi muda, mulai TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi," ujarnya.  

Berbagai langkah pencegahan penyalahgunaan narkoba dilakukan antara lain berupa diseminasi informasi melalui beragam bentuk dan cara, koordinasi pelaksanaan advokasi pembangunan berwawasan anti narkoba di sepuluh tempat, pembentukan 30 relawan anti narkoba, pembentukan Desa BERSINAR (Bersih Narkoba) di sebanyak 39 desa/kelurahan di wilayah Kecamatan Garut Kota, Tarogong Kaler, dan Kecamatan Tarogong Kidu, pengukuhan 13 universitas/sekolah tinggi tergabung dalam Aliansi Relawan Perguruan Tinggi Anti Penyalahgunaan Narkoba.

"Tes narkoba (urine) juga terus kita lakukan, meskipun tahun ini terkendala dengan adanya pandemi Covid-19. Kita tetap patuhi protokol kesehatan, dan kita hindari yang sifatnya pertemuan langsung atau kerumunan. Sepanjang 2020 ini, tes urin dilakukan di empat lingkungan dengan sasaran 40 orang, dan sebanyak sembilan kali dengan sasaran 549 orang dengan hasil keseluruhan negatif," kata Irzan. 

Perkembangan kasus penyalahgunaan di Kabupaten Garut sendiri, tutur Irzan, tidak begitu menonjol. Kabupaten Garut tidak masuk sebagai zona merah peredaran dan penyalahgunaan narkoba. 

Kendati begitu, kasus penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Garut tetap ada. Dibuktikan antara lain dengan pengungkapan satu kasus peredaran narkotika dengan tersangka DJ (25 tahun) dengan barang bukti berupa 175 gram ganja. Kasus tersebut sudah diputus pengadilan dengan hukuman lima tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsidair satu bulan kurungan. Juga, adanya sebanyak 35 orang mendapatkan layanan rehabilitasi rawat jalan Klinik Pratama BNN Kabupaten Garut.

Selain itu, ada tiga desa di dua kecamatan dinilai rawan terjadi peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika berdasarkan hasil mapping 2019-2020. Yakni Desa Langensari di dua tempat dengan keterlibatan penduduk setempat tiga orang, Kelurahan Pakuwon di tiga tempat dengan keterlibatan penduduk setempat tiga orang, dan Kelurahan Ciwalen di tujuh tempat dengan keterlibatan penduduk setempat tujuh orang. 

"Kita pun melaksanakan program pascarehabilitasi melalui lima agen pemulihan dengan 20 orang target sasaran klien, dan penerbitan sebanyak 887 dokumen SKHPN (Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Narkotika)," katanya.

Irzan mengingatkan, guna mencegah penyalahgunaan narkoba pada anak maka orang tua hendaknya mengenali gejala perubahan perilaku anak sebagai deteksi dini agar tak terjerumus narkoba. Gaya hidup dan pergaulan bebas kerap menjerumuskan anak pada penyalahgunaan narkoba. 

Lebih daripada itu, orang tua tentu mesti menjadi contoh dalam hidup seratus persen sadar sehat produktif dan bahagia tanpa penyalahgunaan narkoba. (Zainulmukhtar)