Bank Syariah Indonesia Bangkitkan Keuangan Syariah Tanah Air

Bank Syariah Indonesia Bangkitkan Keuangan Syariah Tanah Air
net

INILAH, Bandung - Industri keuangan syariah di Indonesia diyakini akan menguat. Tiga entitas bank syariah kini bergabung dalam PT Bank Syariah Indonesia Tbk.

Pengamat ekonomi syariah dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Cupian mengatakan, mergernya tiga bank syariah nasional itu memberikan angin segar untuk perkembangan keuangan syariah di negeri mayoritas muslim ini. Pasalnya, market share perbankan syariah sejauh ini tidak beranjak dari angka 6%.

Menurutnya, Bank Syariah Indonesia berpotensi meningkatkan pangsa pasar keuangan syariah di Indonesia. Tak hanya itu, upaya  positif menggabungkan bank syariah tersebut akan menciptakan daya saing sekaligus alternatif yang lebih kompetitif. Terlebih, sejak awal merger Bank Syariah Indonesia ini memiliki visi menjadi Top 10 bank syariah terbesar di dunia. 

“Harapannya, dengan mergernya tiga bank syariah itu bisa meningkatkan masket share hingga double digit. Dari dulu pangsanya masih di angka5-6%, itu pun dengan susah payah,” kata Cupian, Selasa (15/12/2020).

Disinggung mengenai statusnya sebagai perusahaan terbuka, dia menyebutkan hal itu memberikan dampak positif lain. Sebab, dengan status melantai di bursa itu menarik pelaku pasar modal. Tak hanya investor domestik, dia tak menutup kemungkinan investor asing pun akan melirik perbankan syariah di lantai bursa.

“Salah satu investor asing yang dibidik yaitu dari kawasan Timur Tengah,” tambah dosen Program Studi Ekonomi Islam Unpad itu.

Dari informasi yang dihimpun, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bank Syariah Indonesia akhirnya Hery Gunardi ditetapkan dan disahkan menjadi Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Hery Gunardi sebelumnya menjabat sebagai Ketua Project Management Office merger tiga bank syariah milik BUMN.

Bank Syariah Indonesia merupakan penggabungan tiga bank yaitu PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS), PT Bank Mandiri Syariah, dan PT Bank BNI Syariah. BRIS merupakan entity suvivor yang menerima penggabungan tiga bank tersebut. RUPSLB tersebut membahas lima mata acara yang terkait dengan merger tiga bank syariah anak usaha BUMN.

Kelima mata acara itu yakni persetujuan atas penggabungan, persetujuan rancangan penggabungan, persetujuan akta penggabungan, persetujuan perubahan anggaran dasar, dan persetujuan susunan direksi, komisaris, dan dewan pengawas syariah bank hasil penggabungan. Bank hasil merger itu akan bergabung secara efektif pada 1 Februari 2021. 

Dirinci lebih jauh, sepuluh posisi direksi yang akan mengelola itu terdiri dari direktur utama, dua posisi wakil direktur utama, dan masing-masing satu direktur wholesale & transaction banking, retail banking, sales & distribution, information technology & operations, risk management, compliance & human capital, serta finance & strategy.

Sebelumnya, Hery Gunardi mengatakan seluruh proses dan tahapan-tahapan merger akan terus dikawal hingga penggabungan ketiga bank syariah BUMN selesai dilakukan. Dia memastikan, segala rencana perubahan dan penyesuaian operasional telah sesuai dengan tujuan dan kegiatan operasional bank hasil merger. 

“Kehadiran Bank Syariah Indonesia akan menjadi tonggak kebangkitan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, entitas baru ini tentu memerlukan identitas yang kuat dan direksi yang berpengalaman untuk menjalankan operasionalnya,” ujar Hery. 

Bank Syariah Indonesia ini akan memiliki aset mencapai Rp214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun. Selain memiliki aset dan modal inti besar, bank hasil merger juga akan didukung dengan keberadaan lebih dari 1.200 cabang, 1.700 jaringan ATM, serta didukung 20.000 lebih karyawan di seluruh Indonesia. Bank Syariah Indoensia akan mampu memberikan layanan finansial berbasis syariah, layanan sosial bahkan spiritual bagi lebih banyak nasabah.

“Melalui integrasi ini, bank syariah Himbara nantinya akan memiliki engine, economic scale, dan market reach yang lebih besar. Tentunya dengan engine dan otot yang lebih kuat dan besar itu kita bisa mengoptimalkan potensi ekonomi dan keuangan syariah secara sustainable. Bagi para nasabah, nantinya bisa menikmati semacam one-roof syariah financial service solution untuk berbagai kebutuhan dan segmen nasabah, mulai dari UMKM, ritel dan commercial, wholesale syariah, hingga corporate dan investment,” ujarnya. (dnr)