Belajar Daring, Awas Bahaya Narkolema di Masa Pandemi

Belajar Daring, Awas Bahaya Narkolema di Masa Pandemi
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Ancaman kerusakan moral terhadap generasi muda di era digital saat ini bukan hanya datang dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba konsumsi. Namun, narkotika lewat mata (narkolema) seperti kecanduan pornografi yang dapat merusak organ otak dan mengganggu pembangunan karakter. 

Terlebih pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, ketika kegiatan belajar mengajar (KBM) tak lagi dapat dilakukan secara bertatap muka langsung di sekolah melainkan melalui media daring (dalam jaringan/online internet), ancaman narkolema terhadap anak-anak, mulai siswa PAUD, TK, SD, SMP, SMA/SMK hingga Perguruan Tinggi kian meningkat. Ditambah banyak orang tua, terutama di daerah, masih gagap terhadap penggunaan gawai internet.  

Sedangkan pandemi Covid-19 belum diketahui kapan berakhir. Begitu pun KBM tatap muka belum dapat dipastikan kapan bisa dimulai lagi.

Dengan kondisi seperti itu maka peran pendampingan orang tua terhadap anak dalam penggunaan dawai menjadi sangat penting. Termasuk keharusan mengenali gejala-gejala bila anak mulai terjerat narkolema.  

Peringatan tersebut salah satunya seperti diingatkan Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (Kaltim) Yuliani Winarni pada diskusi "Media Daring Tantangan Belajar dan Bahaya Narkolema di Masa Pandemi" digelar Healthy Corner tvMu kerjasama Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) PP Muhammadiyah, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, anak-anak merupakan masa rasa keingintahuannya (sense of curiousity) meningkat. Sehingga orang tua perlu mengenali tanda-tanda anak mulai kecanduan pornografi lewat internet, atau narkolema.  

"Awalnya mungkin anak-anak terpapar tidak sengaja. Melihat konten pornografi dan merasakan kesenangan. Pada saat anak terus mengakses pornografi dan jatuh kecanduan maka orang tua harus mengenali tanda-tandanya," ingat Yuliani.

Dia menyebutkan, tanda anak mulai kecanduan narkolema antara lain anak mulai suka sembunyi-sembunyi untuk bisa mengakses internet. Bersembunyi di kamar tertutup, misalnya. Tanda lainnya, anak mulai sulit dipisahkan dari dawai(gadget)nya, anak mulai merasakan kegelisahan kalau tidak bisa mengakses internet, dan anak mulai menunjukkan perilaku agresif. Marah ketika dawainya diambil, atau suka menjahili adik atau teman lawan jenis.

"Orang tua harus peduli. Perlu pengetahuan lebih berkaitan narkolema ini. Narkolema adalah narkotika lewat mata." tegasnya Yuliani.

Pentingnya pendampingan anak dari ancaman narkolema di kalangan guru di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah sudah sejak lama dirasakan, terlebih ketika terjadi pandemi Covid-19. Seperti dikatakan Ketua Forum Guru Kaltim Muhammad Jafron. 

Menurutnya, guru-guru di Muhammadiyah sudah membahas soal narkolema ke para orang tua agar mereka turut membentengi diri. Guru juga melakukan konseling kepada orang tua agar memberikan pendampingan khusus terhadap anak supaya terjaga dari efek negatif penggunaan internet.

Di lembaga pendidikan Muhammadiyah sendiri, tutur Muhammad Jafron, salah satu cara membentengi anak dari bahaya narkolema yakni dengan membiasakan membaca dan membedah al Qur'an setiap memulai kegiatan belajar mengajar. Dengan begitu, diharapkan sejak awal ada desain bagi anak mengenai nilai benar dan salah. Pola pendidikan seperti itu adalah karakter Muhammadiyah. 

Dengan target tertentu, lanjutnya, mungkin anak harus menghapal dan harus mengerti Alquran di hampir semua level bahkan sampai perguruan tinggi. Modul-modul dibuatkan tentang isi Alquran dan kaitannya dengan materi yang diajarkan. 

"Itu bukan tugas guru agama, tetapi tugas semua guru bidang studi dalam hal agama untuk membekali anak-anak. Tentu akan ada penekanan tertentu, termasuk soal narkolema itu. Kita sampaikan secara tersirat, bagaimana menjadi anak soleh, sehingga bisa menghindari perbuatan menyimpang, dan takkan mendekati perbuatan itu. Ini harus terus menerus," tegasnya. 

Dia mengingatkan, di era pandemi sekarang ini, orang tua harus mendampingi anak setiap pagi, dan membacakannya Alquran agar lambat laun hal itu menjadi kebiasaan mereka.
Namun begitu, diakui Muhammad Jafron masih terdapat kendala bagi orang tua maupun guru berkaitan media daring. 

Dia menuturkan, pada akhir September 2020, pihaknya menyebarkan angket penelitian kepada seluruh guru Muhammadiyah se-Kaltim secara online. Hasilnya, sebesar sepuluh persen guru merasa kesulitan mengakses internet karena tidak semua guru berada di perkotaan. Juga terkendala kuota, dan terbatasnya kemampuan orang tua siswa karena kebanyakan siswa dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Guru juga harus belajar ulang mengenai teknik pembuatan program internet. 

Senada dikemukakan Kepala SD MBS Prambanan Priyo Agus Nbugroho. 

Kendati proses pembelajaran tetap berlangsung dari rumah, baik secara daring maupun luring (luar jaringan), pihaknya menggunakan modul-modul pembelajaran yang disusun Majlis Pendidikan Dasar Menengah (Dikdasmen) Muhammadiyah. Modul pembelajaran yang berisikan keislaman untuk pembangunan karakter anak agar terhindar dari perilaku negatif. (Zainulmukhtar)