Mencari Solusi Kala Harga Cabai Anjlok

Mencari Solusi Kala Harga Cabai Anjlok
Foto: Antara

INILAH, Bandung - Petani cabai selalu dirundung problematika klasik berupa ketidakstabilan harga. Di kala musim panen raya dengan hasil produksi berlimpah, anjloknya harga cabai selalu merugikan petani. 

Namun, saat produksi berkurang harga cabai justru meningkat. Kondisi itulah yang selalu dialami petani cabai di Ciamis. Asep Halim (54) kerap dipusingkan ketidakstabilan harga setiap kali panen raya. Pasalnya, stok cabai berlimpah itu berdampak pada anjloknya harga jual. 

“Iya memang begitu. Kalau musim panen, stok berlimpah. Sementara pangsa pasar cabai tidak mampu menyerap stok yang berlimpah itu. Makanya, harga cabai langsung anjlok,” kata saat dihubungi INILAH, Kamis (17/12/2020).

Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jawa Barat itu mengungkapkan, dalam kondisi anjloknya harga itu mayoritas petani membiarkan begitu saja tanamannya terbengkalai  tanpa dipanen. Sebab, ongkos panen dan transportasi untuk dikirim ke pasar tidak mampu ditutup dengan harga cabai yang rendah.

Alhasil, petani merugi. Bahkan, kerugian di saat harga cabai anjlok ini tak mampu ditutup dari hasil saat harga cabai sedang bagus. Sehingga waktu hendak memulai musim tanam, petani kelimpungan dengan dana yang dibutuhkan seperti untuk membeli bibit, pupuk serta sarana produksi pertanian lainnya.

Dia sempat menawarkan solusi ke pemerintah agar harga cabai selalu stabil dengan menerapkan batas bawah harga eceran cabai. Namun, usulan tersebut tidak direspons positif. Solusi lain, bersama petani lainnya sempat membuat produk olahan  cabai. Di antaranya berupa cabai kering, saos sambal serta semacam pasta cabai. Secara kualitas, cabai petani lokal di Jawa Barat memiliki kualitas relatif bagus. Bahkan, ada yang mampu memenuhi standar kualitas industri.

Asep mengisahkan, usaha membuat produk olahan cabai pernah dirintisnya pada 2005an. Saat itu, untuk tetap memberi nilai tambah dia mengolahnya menjadi cabai kering maupun tepung cabai yang diistilahkan sebagai pasta cabai.

Produk cabai kering diakuinya bisa dijual di tingkat pasar tradisional. Sedangkan, pasta cabai ditawarkan ke produsen makanan di Ciamis dan sekitarnya. Namun, usaha yang digelutinya itu belum berhasil. Cabai kering hasil produksinya ternyata kalah dengan cabai kering impor asal India yang harganya jauh lebih murah.

Demikian pula halnya olahan pasta cabai murni untuk saos sambal pun tidak mampu bersaing dengan produk olahan sejenis yang berasal dari campuran cabai, tepung dan ketela. Menurutnya, harga olahan cabai murni memang tidak bisa dijual lebih murah dibandingkan produk sejenis yang berbahan baku campuran itu.

Kendati belum berhasil, Asep tak patah arang. Dia tetap melihat ada peluang agar petani tak merugi saat harga cabai sedang anjlok. Dia berniat menggeliatkan lagi usahanya memproduksi olahan cabai. Usaha memproduksi olahan cabai juga dianggap sebagai solusi saat cabai tak terserap pasar, termasuk di industri besar. 

“Untuk memproduksi olahan cabai ini bukannya tanpa kendala. Bukan kendala kualitas cabai petani maupun kemampuan petani memproduksi olahan cabai, tetapi lebih kepada kendala pasar yang dituju. Oleh karenanya, saya sangat antusias bila ada pemangku kepentingan yang bisa membantu merintis pasar bagi usaha petani cabai ini,” jelasnya.

Sementara itu, PT Pupuk Kujang saat ini gencar mengembangkan program Closed Loop Agrobisnis. Program ini mensinergikan mata rantai nilai pertanian mulai dari hulu hingga ke hilir agar suplai lebih maksimal serta harga hasil panen petani selalu  stabil.

Untuk komoditas cabai, telah ada proyek percontohan seluas 30.000 m2 di Kabupaten Garut. Direktur Operasi dan Produksi PT Pupuk Kujang Robert Sarjaka mengatakan program itu merupakan sinergi BUMN, pemerintah, swasta serta kelompok tani yang terhubung mulai dari hulu hingga hilir.

“Petani dalam pola Closed Loop bisa terhubung dengan perusahaan, bank, koperasi, ritel, bahkan industri sehingga bisa mengurai permasalahan supply chain yang muncul seperti saat produk melimpah maupun kelangkaan produk pertanian,” jelas Robert kepada wartawan, belum lama ini. 

Di program tersebut, Pupuk Kujang berperan tidak hanya terbatas di hulu dengan pendampingan petani mulai dari analisa tanah, aplikasi pemupukan, dan budidaya. Namun, pihaknya ikut berperan membantu pemasaran hasil petani. Melalui program tersebut, lanjut Robert, pihaknya bisa menjembatani petani dan pasar sehingga tercipta suplai yang maksimal dan harga produk pertanian yang tetap stabil.

Dia mengisyaratkan program Closed Loop akan diperluas ke wilayah lain yang dinilai memiliki pasar potensial dengan kelompok tani serta luasan lahan yang memadai.  Rencana Pupuk Kujang itu langsung direspons positif Asep.

Menurutnya, petani cabai di Ciamis beberapa kali diberi pendampingan dari Pupuk Kujang, terutama dalam hal teknis pemupukan. 

“Tapi kalau memang Pupuk Kujang melalui program Closed Loop terus terlibat melakukan pendampingan sampai di hilir membantu pemasaran, itu sangat bagus,” sebut Asep.

Apalagi, bila pemasaran tak hanya terbatas pada cabai hasil panen saja. Harapannya, petani cabai di Ciamis diberi pendampingan dalam membuat produk olahan cabai hingga mencarikan pasar dari produk olahan cabai yang dihasilkannya.

Asep berkeyakinan melalui cara ini, petani cabai tetap memperoleh nilai lebih saat harga cabai anjlok. Stok cabai yang selalu berlimpah di musim panen raya bisa tetap dimanfaatkan tanpa harus merugikan petani.

Permasalahan klasik anjloknya harga cabai pun akhirnya bisa didapatkan solusinya. Petani cabai pun tak lagi khawatir setiap kali stok cabai melimpah karena tetap bisa menikmati hasil panen cabainya dengan nilai lebih yang bermanfaat bagi kehidupan petani. (dnr)