Polda Jabar Ungkap Prostitusi Online Jaringan Nasional, Tiga Mucikari Kelas Kakap Diciduk

Polda Jabar Ungkap Prostitusi Online Jaringan Nasional, Tiga Mucikari Kelas Kakap Diciduk
Foto: Ridwan Abdul Malik

INILAH, Bandung - Subdit V Siber Dit Reskrimsus Polda Jabar mengungkap kasus prostitusi online jaringan nasional. Tiga mucikari kelas kakap pun berhasil diamankan.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Erdi A Chaniago menjelaskan, pengungkapan tersebut berawal dari patroli siber yang dilakukan Subdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar. Penyidik, mendapati sebuah situs berinisial BM yang mengiklankan wanita-wanita berbagai macam profesi.

Kemudian, lanjut Erdi, penyidik menangkap dua orang mucikari berinisal AH di Kota medan dan RJ di Kota Jakarta. Diketahui, keduanya berperan sebagai agen yang mengiklankan wanita-wanita dalam situs BM tersebut.

"Berawal dari para penyidik melakukan cyber patroli ditemukan adanya satu praktik prostitusi online, dari situ penyidik melakukan pendalaman dan kemudian berhasil menangkap dua orang (mucikari)," ucap Erdi saat ungkap kasus di Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar, Jumat (18/12/2020).

Setelah mendapatkan dua orang mucikari, Erdi mengungkapkan penyidik melakukan pengembangan terhadap para pelaku. Hasilnya, penyidik berhasil menemukan dan menangkap mucikari lainnya berinisal MR di Kota Bogor. Dalam kasus ini, MR berperan sebagai penyedia wanita-wanita berbagai macam profesi, mulai dari selebgram, model, hingga selebriti tanah air.

"Kita amankan satu lagi yang kita katakan sebagai mucikari, berinisal MR, alias Alona. Dari pengembangan penyelidikan yang bersangkutan (MR) ini mempunyai jaringan yang sangat luas sekali bisa dikatakan seluruh indonesia," ungkap Erdi.

"Kita dapatkan adalah prostitusi kelas atas, karena mereka mampu dan sanggup medatangkan sesuai dengan keinginan pelanggan, misalnya ingin artis mereka dapat mencarinya, selebgram mereka mampu," sambungnya.

Lebih lanjut, Erdi menambahkan, ketiga mucikari kelas kakap tersebut telah mejalan bisnis haramnya sejak tahun 2016. Selama 4 tahun, para mucikari mampu mengembangkan jaringan bisnisnya hingga ke seluruh wilayah di Indonesia.

"Sudah lama yah mereka melaksanakan kegiatan ini sejak tahun 2016, kurang lebih 4 tahun. Dan dalam 4 tahun mereka sudah memiliki jaringan luas," tuturnya.

Atas perbuatannya, polisi menjerat ketiga mucikari tersebut dengan Pasal 45 ayat (1) Jo Pasal 27 ayat (1) UU RI nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI nomor 11 tahun 2008 tentang ITE atau pasal 12 UU RI nomor 21 tahun 2007 tentang tindak pidana perdagangan orang.

"Uu ite kita kenakan karena yang bersangkutan berbisnisnya menggunakan fasilitas media online. Ancaman hukumannya maksimal 6 tahun sampai 15 tahun penjara," pungkas Erdi. (Ridwan Abdul Malik)