Menimba Ilmu Keikhlasan Mang Isur, Penggali Kubur Jenazah Covid-19 di TPU Cikadut

Menimba Ilmu Keikhlasan Mang Isur, Penggali Kubur Jenazah Covid-19 di TPU Cikadut
Foto: Ridwan Abdul Malik

INILAH, Bandung - Bagi sebagian orang, bekerja sebagai tukang gali kubur merupakan sebuah profesi yang sangat dihindari. Terlebih, jadi tukang gali kubur jenazah Covid-19.

Namun, tidak bagi Suryana (55). Sehari-hari, kini pria yang kerap disapa Mang Isur itu seorang tukang gali kubur jenazah Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikadut, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung. Di Kota Kembang, TPU ini dijadikan tempat peristirahatan terakhir bagi jenazah yang terpapar Virus Covid-19.

Bagi Mang Isur, membantu pemakaman seorang pasien positif Covid-19 adalah panggilan hati. Pasalnya, Mang Isur tidak pernah menerima gaji atau upah setiap kali membantu memakamkan jenazah Covid-19.

"Hati saya merasa tersentuh karena sesama muslim pasti merasa kasihan terhadap jenazah Covid-19. Kebetulan Mang Isur mah relawan saja, tidak digajih, tidak dikasih apa-apa. Cuman kan kita orang sini, menolong dan ikhlas saja," ucap Mang Isur saat ditemui di TPU Cukadut, Senin (28/12/2020).

Pekerjaan yang digeluti Mang isur tentunya memiliki resiko tinggi. Pasalnya, Dia berpotensi bersentuhan langsung dengan jenazah Covid-19.

Namun, meski tidak digaji Mang Isur kerap kali menerima sedekah dari keluarga jenazah Covid-19. Tentunya dengan nominal yang tidak tentu.

"Kadang misal ada dari keluarga jenazah yang kesini, ada yang ngasih alhamdulillah, kalau tidak ngasih juga tidak masalah, Mang Isur terus terang saja gak minta-minta," ungkap Mang Isur.

Dalam sehari, Mang Isur kerap memakamkan 5 jenazah Covid-19. Bahkan, dia bercerita pernah memakamkan 15 jenazah Covid-19 dalam satu hari.

Asal jenazah pun beragam. Ada yang datang dari rumah sakit di Kota Bandung bahkan ada pula yang datang dari rumah sakit luar kota.

"Ya, mencapai rata-rata 5 jenazah per hari. Bahkan pernah sampai 15 jenazah per hari waktu itu sampai larut malam. Ada juga jenazah yang berasal rumah sakit yang di Kabupaten juga," tuturnya.

Saat disinggung proses pemakaman seorang jenazah Covid-19. Mang Isur bercerita pemakaman selalu dilakukan secara syariat agama. Hanya saja, jenazah dikubur dengan sebuah peti.

"Sesuai dengan syariat Islam, di sini kan korban Covid-19 itu rata-rata muslim. Jadi mayoritas yang dimakamkan kena dampak Covid-19 itu secara syariatnya mah kan ada yang peti jenazah, ada yang pakai kain kafan sesuai syariat Islam, itu macam macam. Ada yang sebelumnya diadzankan," pungkas Mang Isur.

Dari kisah Mang Isur, kita dapat mengambil pelajaran dari sebuah keikhlasan seseorang dalam bidang kemanusiaan. Semoga kisah Mang Isut dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat. (Ridwan Abdul Malik)